Kata “mother”, “bunda”, “ibu”, “mama”, “emak”, “simbok” dan sebagainya terdengar sederhana dan sangat sering kita dengar. Semuanya sama saja, berarti “ibu”. Yakni, seorang wanita yang telah melahirkan kita. Dalam perkembangannya, tak semua ibu bisa merawat dan mendidik anak-anaknya. Kenyataannya, kini banyak wanita yang lebih banyak beraktivitas di luar rumah, dengan atau tanpa meninggalkan peran utamanya di rumah.
Kata “the great”, membuatnya menjadi luar biasa. The Great Mother adalah sebuah predikat istimewa yang dimiliki oleh seorang wanita setelah ia memberanikan diri menjabat sebagai istri. Menjadi ibu adalah konsekuensi logis ketika kita mengizinkan seorang lelaki asing mengucapkan qabul sambil menjabat erat tangan wali kita. Manusia hebat, terlahir dari ibu yang hebat dan mendidiknya dengan penuh kesabaran. Seorang ibu yang hebat akan mencurahkan segenap kemampuannya untuk menjadikan anak-anaknya berkualitas. Ia tak pernah mengeluh terhadap banyaknya jumlah anak (misal tiap tahun lahir satu anak), kerepotan dalam mengurusnya, serta beratnya mendidik mereka 24 jam nonstop. Ibu tangguh akan senantiasa sabar dan qonaah pada apapun yang terjadi padanya karena itu semua adalah konsekuensi yang harus ia terima sebagai ummu wa robbatul bayt (Ibu dan pengatur rumah tangga).
Setidaknya, The Great Mother harus memiliki enam peran, antara lain:
1. Sebagai hamba Allah. Dalam kehidupannya, laki-laki dan perempuan dituntut untuk menjalankan kewajiban yang sama yakni menaati perintah Allah dan menjauhi larangan-Nya. Dengan menikah, tak membuat kewajiban-kewajibannya sebelum menikah menjadi lenyap. Ia tetap harus menjaga amal-amal baiknya sejak sebelum menikah.
2. Sebagai Best Wife. The Great Mother haruslah bisa menjadi istri terbaik yang dibanggakan oleh suaminya. Selalu menaati segala perintahnya selama bukan perintah pada kemaksiatan, dan selalu menyenangkan suaminya, menjaga kehormatan suami ketika suaminya tak berada di rumah, menjaga hartanya, mencari keridloannya, qonaah pada setiap yang diberikan suaminya sebagai rizki yang halal. Menjadi motivator dan tempat bersandar kapanpun dan di manapun suaminya butuhkan. Menjadi sahabat yang asyik diajak bercanda dan tidak menampakkan muka yang masam di depan suaminya. Juga ketika suami baru pulang bekerja, ia selalu menyambutnya dengan wajah ceria.
3. Sebagai Ibu Tangguh. Ini jabatan terberat yang disandang seorang wanita setelah ia berikrar menjadi istri. Sebagian orang berpendapat bahwa belumlah wanita itu menjadi sempurna sebelum ia menjadi ibu dan mengabdi pada suaminya. Wallahu a’lam. Ia akan rela bersakit-sakit demi kebahagiaan keluarganya. Ketika sedang nikmat-nikmatnya tidur, ia ikhlas bangun ketika mendengar tangis anaknya yang lapar atau sakit. Ketika sedang enak-enaknya makan, ia tak mengeluh membersihkan kotoran anaknya yang tiba-tiba buang air. Begitu pula, ia ikhlas untuk mendahulukan keperluan anak-anaknya dibanding kepentingan pribadinya. Jelasnya, ibu tangguh itu bisa melakukan apa saja. Cerdas dalam segala bidang sehingga bisa mengajari anak-anaknya banyak hal dari segi keilmuan maupun keterampilan. Ia pun bisa menjadikan anak-anaknya berjiwa militan dengan selalu mengajarinya tentang keislaman. Menjadikan Rasulullah saw sebagai teladan yang patut dicontoh.
4. Sebagai anggota masyarakat. Peran ini takkan hilang setelah menikah, justru perannya semakin bertambah karena harus mencerdaskan masyarakatnya dengan Islam. Ia harus bisa membagi waktu antara keluarga dan dakwah. Tidak berat sebelah antara tugas yang satu dengan tugas lainnya. Ia selalu ingat peran utamanya sebagai ummu wa robbatul bayt dan dia juga tidak melalaikan kewajiban dakwahnya karena keduanya adalah sama-sama kewajiban yang dibebankan kepada setiap muslimin.
5. Sebagai Anak yang Berbakti. Meskipun setelah menikah, suaminya yang menjadi walinya bukan berarti ia meninggalkan perannya sebagai anak dari orangtuanya. Ia tetap harus berbakti dan selalu mendoakan mereka, berbuat baik dan memuliakan mereka.
6. Sebagai Menantu Dambaan. Terkadang menantu diversuskan dengan mertua, padahal andai saja semua menantu menyadari bahwa mertua adalah orangtua kita juga tentu tidak akan terjadi “perang dingin” antara mereka. kita harus ingat bahwa mertua adalah orangtua dari suami kita, mengasuhnya sejak kecil tanpa lelah hingga menjadi sedemikian sempurna kita melihatnya. Adalah tidak tahu dirinya kita, sudah mengambil anak orang, kita berbuat tidak baik kepada mertua.
Demikianlah, seorang Great Mother mampu menjadi basis perjuangan Islam. Wanita adalah tiang negara, apabila wanitanya tangguh maka negara juga akan tangguh. Anak-anak yang tangguh adalah hasil didikan ibu tangguh. Imam Syafi’i bisa menghafal al-Qur’an pada usia sembilan tahun, Ibnu Sina pada usia sepuluh tahun, ath-Thabari pada usia tujuh tahun, adalah contoh pribadi yang dididik oleh seorang ibu tangguh. Bahkan Albert Einstein yang dikeluarkan dari sekolah dasar karena dicap bodoh, siapa sangka ia bisa menciptakan bom atom. Itu karena ibunya selalu memotivasi dan mendidiknya tanpa lelah.
Setidaknya, ada empat hal yang diperlukan orangtua dalam mendidik anak-anaknya: 1. Menerima yang sedikit darinya; tidak memaksanya agar menjadi juara satu di sekolahnya, kalaupun anaknya dikatakan bodoh sekalipun oleh lingkungannya, ibu harus bisa menerima dan terus memotivasinya bahwa kepintaran manusia itu tidak bisa dinilai dengan bilangan angka, melainkan lebih luas dari itu.
2. Memaafkan yang menyulitkannya; jika anak-anak melakukan kesalahan, kita bersabar dan tidak lekas marah.
3. Tidak membebaninya; jangan menyuruhnya melakukan pekerjaan yang tidak mampu dikerjakannya.
4. Tidak pula memakinya; anak jangan dicap “bodoh”, “nakal”, dsb sebab itu akan melekat pada diri anak dan sulit untuk menciptakan citra baru bagi dirinya bahwa dirinya “baik”.
The Great Mother, singkatnya, adalah ibu yang tahu akan segala yang dibutuhkan suami, anak-anak dan masyarakatnya. Ia bisa menjadi teman yang menyenangkan di setiap waktu, serta menjadi guru yang mendidik anak-anaknya dengan kesabaran. Semoga kita semua bisa menjadi The Great Mother, sehingga bisa menjadi lingkup kecil perjuangan Islam, melahirkan para mujahid-mujahidah militan yang akan memperjuangkan kemuliaan Islam.[yN]
Allahumma amin…. wallahu a’lam bish shawab….
islamuda.com
Selengkapnya...
20 Juni 2009
The Great Mother
04 Mei 2009
Kartini ‘Menggugat’
gaulislam edisi 078/tahun ke-2 (24 Rabiul Akhir 1430 H/20 April 2009)
Waduh….belum apa-apa judulnya udah syerem banget neh. Ibu Kartini kan udah lama meninggal, kok bisa dia menggugat? Pasti seru neh! Nah, mumpung bulan April rasanya kurang afdhol kalo kita nggak ikut membicarakan beliau yang setiap tahun selalu ada peringatan hari kelahiran putri keraton Jawa ini.
Kartini sudah terlanjur jadi jargon emansipasi perempuan Indonesia. Di setiap waktu dan bidang, semua mengelu-elukan beliau sebagai peletak tonggak persamaan hak perempuan dengan laki-laki. Semua profesi yang berkaitan dengan perempuan sebagai pelaku aktif di dalamnya, tidak pernah ketinggalan selalu menyelipkan nama Kartini dengan penuh kekaguman dan terima kasih yang mendalam. Benarkah Kartini sehebat itu?
Jangan-jangan pemujaan ini menyimpan makna tertentu di baliknya. Apa iya sih cuma Kartini saja yang memperjuangkan hak perempuan terutama dalam hal memperoleh pendidikan? Ikuti terus yuk biar jelas…
Perempuan hebat lainnya
Pernah nggak kamu mendengar nama Dewi Sartika dan Cut Nyak Dien? Hmm….kayaknya nggak asing ya meskipun namanya tak setenar Kartini. Kalo nama-nama yang ini: Tengku Fakinah, Cut Mutia, Pecut Baren, Pocut Meurah Intan, dan Cutpo Fatimah, Malahayati dan Rohana Kudus? Hehehe….siap-siap aja kamu pada mengerutkan kening karena merasa tak kenal sama sekali dengan mereka.
Para sejarawan membuktikan bahwa nama-nama yang tersebut itu hidup sezaman dengan Kartini. Namun kenapa Kartini yang dijadikan satu nama utama ya? Padahal nama-nama perempuan hebat tersebut telah melakukan sesuatu yang lebih dahsyat daripada Kartini di saat itu. Di saat Kartini masih dikungkung oleh budaya Jawa saat itu yang melarang perempuan bersekolah tinggi dan harus menunduk-nunduk di hadapan laki-laki meski itu adiknya sendiri, perempuan-perempuan tersebut di atas sudah melakukan lebih.
Dewi Sartika berkiprah di sekolah yang didirikannya bernama Kautamaan Istri (1910) yang berdiri di berbagai tempat di Bandung dan luar Bandung. Bahkan Rohana Kudus (1884-1972) mendirikan Sekolah Kerajinan Amai Setia (1911) dan Rohana School (1916). Lebih dahsyatnya lagi, Rohana Kudus juga aktif sebagai jurnalis perempuan pertama di Indonesia. Dan yang lebih membanggakan, perempuan hebat ini juga mendirikan koran-koran surat kabar yang didirikannya sendiri semisal Sunting Melayu (Koto Gadang, 1912), Wanita Bergerak (Padang), Radio (padang), hingga Cahaya Sumatera (Medan). Subhanallah!
Rohana Kudus bukan jurnalis perempuan biasa. Ia mempunyai visi dan misi keislaman yang jelas dan tegas bahwa perempuan harus tetap menjadi perempuan dan bukan pesaing laki-laki. Perubahan yang ia perjuangkan adalah perempuan harus mendapat pendidikan dan perlakukan sebaik-baiknya terutama dalam masalah akhlak, budi pekerti dan ibadah. Dan semua itu bisa dicapai hanya dengan ilmu pengetahuan saja.
Kamu akan semakin bengong bila mendengar kiprah Tengku Fakinah, yang selain ikut berperang, beliau juga adalah seorang ulama-wanita. Yang namanya ulama, levelnya bukan lagi sekadar bisa baca tulis namun beliau sudah menjadi rujukan umat karena kecerdasan dan kesalehannya. Jauh sebelum Kartini lahir, ada nama Malahayati, Panglima Angkatan Laut wanita pertama di kepulauan Nusantara. Awalnya, Malahayati membentuk barisan prajuritnya terdiri dari para janda untuk melawan Belanda yang berusaha menjajah kerajaan Aceh. Karirnya pun semakin cemerlang sehingga pada tahun 1599, beliau membawahi ratusan armada perang dan berhasil membunuh Cornelis de Houtman yang terkenal bengis itu dengan tangannya sendiri. Nama ini kemudian diabadikan menjadi nama Universitas, rumah sakit dan pelabuhan serta kapal perang. Fantastis!
Dari mana perempuan hebat itu?
Yupz, pernah nggak sih kamu bertanya-tanya, kok sepertinya nama perempuan hebat Indonesia didominasi oleh nama-nama yang bukan berasal dari Jawa? Satu-satunya nama Jawa adalah Kartini dan dia sangat terkenal seantero Indonesia karena hari lahirnya selalu diperingati secara nasional tiap 21 April.
Usut punya usut, para perempuan menjadi hebat itu bukan tanpa sebab. Mereka tidak muncul secara sim salabim. Mereka muncul ternyata ada kaitannya dengan sejarah bangsa lainnya yang memang sengaja belum terkuak. Aceh pada faktanya pernah menjadi bagian dari Kekhilafahan Islam di nusantara. Khilafah Islam saat itu memang sudah sempoyongan menjelang kejatuhannya di saat jejak langkahnya mencapai Indonesia. Sudah sempoyongan saja memberi pengaruh positif dalam menciptakan perempuan-perempuan hebat nusantara, apalagi kalau dalam kondisi sehat yah? Subhanallah.
Sebagai sistem hidup, Islam memang mampu memberi efek dahsyat pada para pemeluknya. Tidak dulu, tidak sekarang, tidak di masa depan, bila Islam yang dipakai sebagai standar dan aturan hidup, maka bisa dipastikan kondisi perempuan akan termuliakan secara benar. Begitu sebaliknya, bila Islam ditinggalkan maka hanya kehinaan saja yang akan didapatkan.
Lihatlah Kartini yang tertatih-tatih memperjuangkan harkat dan martabat kaumnya di tengah dominasi budaya Jawa yang sarat dan kental dengan aturan dari luar Islam. Hingga akhirnya Kartini mendapat pencerahan ketika al-Quran mulai diterjemahkan ke dalam bahasa Jawa dan beliau pun mencampakkan kekagumannya pada gaya hidup perempuan Barat.
Sejarah rancu?
Jalannya sejarah berkaitan erat dengan siapa yang menjadi penguasa di zaman sejarah tersebut dibuat. Sebagai contoh sederhana, di zaman Soeharto berkuasa, ia menciptakan sejarah tentang jasa-jasanya menyelamatkan bangsa dan negara dari kudeta. Namun di zaman reformasi, banyak pakar sejarah yang berusaha merevisi ulang semua dogma tersebut.
Contoh lain adalah nama Kemal Attaturk. Dalam sejarah dunia dia dianggap sebagai bapak pembaharu Turki modern yang namanya begitu harum sebagai peletak tonggak sekulerisme Turki. Namun bila kamu jeli melihat sejarah dalam sudut pandang yang lain, Attaturk adalah orang Yahudi yang menyamar jadi muslim untuk menghancurkan Islam dari dalam. Dialah orang yang mengeksekusi Khilafah Islam dibubarkan pada 3 Maret 1924. Dia adalah pengkhianat sekaligus pecundang.
Kembali ke sejarah Ibu Kartini, kecurigaan sebagian kalangan bahwa ada nuansa Jawa minded dalam Indonesia kita, sungguh kental terasa. Kartini yang berkirim surat dengan sahabat-sahabatnya dari negeri Belanda jauh lebih terkenal daripada Dewi Sartika dari Sunda, Cut Nyak Dien sang panglima perang, Malahayati sebagai laksamana AL, apalagi Rohana Kudus sebagai jurnalis perempuan pertama Indonesia.
Orang mungkin percaya ada nuansa Jawa minded dan meminggirkan suku-suku lain dalam negeri tercinta ini. Tapi sesungguhnya, yang lebih kental terasa adalah nuansa meminggirkan dan mengecilkan peran Islam dalam membentuk sebuah peradaban. Ketika KH. Ahmad Dahlan mendirikan sekolah Muhammadiyah di tahun 1908, beberapa tahun lebih dulu daripada sekolah Taman Siswa, namun mengapa Ki Hajar Dewantoro yang jadi pahlawan pendidikan? Ketika Sarekat Islam sebagai organisasi nasional pertama yang berusaha bersatu dan bangkit melawan penjajah, namun mengapa Budi Utomo yang jelas-jelas anggotanya harus dari suku Jawa malah dianggap sebagai pelopor kebangkitan nasional?
Sudah saatnya bangsa ini meluruskan kembali sejarah nasionalnya. Bukan zamannya lagi meminggirkan peran Islam bahkan membungkam aktivisnya dengan dalih apa pun. Nama Malahayati, Tengku Fakinah, Rohana Kudus, Cutpo Fatimah, Nyak Raniah, Cutpo Hasbi dan banyak nama lain yang berawalan Cut telah menunjukkan kiprahnya tentang hak dan kewajiban berdasarkan Islam. Meskipun mereka bukan perempuan Jawa, so what?
Toh Kartini juga tidak pernah meminta dilahirkan sebagai perempuan Jawa yang terkungkung dan terbelakang. Yang ia inginkan hanyalah hak perempuan untuk dihormati secara layak dan mendapat pendidikan sebaik-baiknya. Jadi tidak perlu mendramatisir kehidupan Kartini apalagi menungganginya atas nama kebebasan perempuan yang kebablasan. Biarkan sejarah berbicara apa adanya dengan bukti-bukti otentik yang kuat, bukan diada-adakan untuk kepentingan pihak tertentu saja.
Kasihan Kartini. Andai ia sudah mengenal Islam saat itu sebagai sebuah sistem kehidupan dan bukan hanya kitab suci yang tak diketahui maknanya, maka sudah tentu surat-surat semacam curhat dan keluhan Kartini itu tak akan muncul. Kartini akan menjadi setangguh Cut Nyak Dien, Malahayati, Tengku Fakinah dan juga Rohana Kudus. Laki-laki di sekelilingnya sudah barang tentu akan memberikan pendidikan layak padanya karena hal itu adalah kewajiban bagi perempuan juga.
Sistem yang ada (Islam) juga tak akan menistakan perempuan sehingga tak perlu lagi ada yang dituntut oleh Kartini. Sebaliknya, dia akan sibuk berkiprah di tengah masyarakat sebagaimana Dewi Sartika dan Rohana Kudus dengan sekolah putrinya. Bahkan bukan tak mungkin Kartini kecil yang suka naik pohon akan menjadi pejuang perempuan tangguh selayaknya Tengku Fakinah dan Cut Nyak Dien yang jadi panglima perang.
Sungguh pantas Kartini ‘menggugat’. Sangat layak Kartini geram. Karena sistem yang ada tidak berdasar pada Islam, selalu berarti meminggirkan dan menghinakan perempuan. Kartini yang semula menyanjung dan memuja perempuan Barat, akhirnya berubah haluan mengkritik mereka ketika sebagian isi al-Quran diterjemahkan ke dalam bahasa Jawa oleh Kyai Sholeh Darat. Masih sepertiga isi al-Quran, Kartini dipanggil oleh Allah. Baru juga sepertiga, Kartini sudah sedemikian cemerlang berani mencela Barat, menentang praktik Kristenisasi, dan membela Islam di hadapan teman perempuannya dari Eropa. Apakah lagi bila Kartini sempat memahami keseluruhan isi al-Quran ya? Tak terbayangkan!
Finally…
Biarlah Kartini tenang di alam sana. Tidak perlu mendompleng namanya atau menunggangi perjuangannya demi perempuan Jawa yang saat itu derajatnya dianggap lebih rendah daripada laki-laki. Satu poin penting yang kita telah tahu bahwa ada penyelewengan sejarah tentang kiprah perempuan Indonesia. Dan yang lebih parah lagi, penyembunyian wajah Islam sebenarnya sebagai sebuah sistem hidup. Padahal, Islam mampu menuntaskan semua permasalahan termasuk masalah perempuan.
Sudah saatnya kita bergerak menyadarkan masyarakat tentang hal ini. Ternyata hanya dengan Islam saja perempuan menjadi mulia tanpa harus menghiba dan menuntut pada laki-laki. Begitu juga laki-laki menjadi mulia dengan memuliakan perempuan sesuai dengan koridor Islam. Keduanya akan menjadi kekuatan yang bersinergi untuk membangun sebuah peradaban yang benar dan baik.
Sungguh, hanya pada kemuliaan ideologi Islam saja kita bersandar dan bercermin, bukan pada peradaban dan ideologi di luar Islam. Bila Kartini saja yang hidup di zaman baheula bisa berpikir maju dengan berani berkata bahwa masyarakat Eropa tidak patut disebut sebagai sebuah peradaban, apalagi kita yang hidup di zaman yang lebih canggih ini. Seharusnya kita makin mantap untuk memilih Islam saja sebagai ideologi dan aturan hidup serta mencampakkan selainnya ke tong sampah peradaban.
Last but not least, jangan diam aja ketika kamu paham hal ini. Ayo sebarkan ke teman-temanmu, keluargamu serta semua orang yang kamu kenal dan temui. Sudah saatnya kita berubah ke peradaban yang mulia, yaitu Islam. Setuju? Tentu dong! Let’s move!
Selengkapnya...
