Tampilkan postingan dengan label Islam. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Islam. Tampilkan semua postingan

20 Juni 2009

The Great Mother

Kata “mother”, “bunda”, “ibu”, “mama”, “emak”, “simbok” dan sebagainya terdengar sederhana dan sangat sering kita dengar. Semuanya sama saja, berarti “ibu”. Yakni, seorang wanita yang telah melahirkan kita. Dalam perkembangannya, tak semua ibu bisa merawat dan mendidik anak-anaknya. Kenyataannya, kini banyak wanita yang lebih banyak beraktivitas di luar rumah, dengan atau tanpa meninggalkan peran utamanya di rumah.

Kata “the great”, membuatnya menjadi luar biasa. The Great Mother adalah sebuah predikat istimewa yang dimiliki oleh seorang wanita setelah ia memberanikan diri menjabat sebagai istri. Menjadi ibu adalah konsekuensi logis ketika kita mengizinkan seorang lelaki asing mengucapkan qabul sambil menjabat erat tangan wali kita. Manusia hebat, terlahir dari ibu yang hebat dan mendidiknya dengan penuh kesabaran. Seorang ibu yang hebat akan mencurahkan segenap kemampuannya untuk menjadikan anak-anaknya berkualitas. Ia tak pernah mengeluh terhadap banyaknya jumlah anak (misal tiap tahun lahir satu anak), kerepotan dalam mengurusnya, serta beratnya mendidik mereka 24 jam nonstop. Ibu tangguh akan senantiasa sabar dan qonaah pada apapun yang terjadi padanya karena itu semua adalah konsekuensi yang harus ia terima sebagai ummu wa robbatul bayt (Ibu dan pengatur rumah tangga).

Setidaknya, The Great Mother harus memiliki enam peran, antara lain:

1. Sebagai hamba Allah. Dalam kehidupannya, laki-laki dan perempuan dituntut untuk menjalankan kewajiban yang sama yakni menaati perintah Allah dan menjauhi larangan-Nya. Dengan menikah, tak membuat kewajiban-kewajibannya sebelum menikah menjadi lenyap. Ia tetap harus menjaga amal-amal baiknya sejak sebelum menikah.

2. Sebagai Best Wife. The Great Mother haruslah bisa menjadi istri terbaik yang dibanggakan oleh suaminya. Selalu menaati segala perintahnya selama bukan perintah pada kemaksiatan, dan selalu menyenangkan suaminya, menjaga kehormatan suami ketika suaminya tak berada di rumah, menjaga hartanya, mencari keridloannya, qonaah pada setiap yang diberikan suaminya sebagai rizki yang halal. Menjadi motivator dan tempat bersandar kapanpun dan di manapun suaminya butuhkan. Menjadi sahabat yang asyik diajak bercanda dan tidak menampakkan muka yang masam di depan suaminya. Juga ketika suami baru pulang bekerja, ia selalu menyambutnya dengan wajah ceria.

3. Sebagai Ibu Tangguh. Ini jabatan terberat yang disandang seorang wanita setelah ia berikrar menjadi istri. Sebagian orang berpendapat bahwa belumlah wanita itu menjadi sempurna sebelum ia menjadi ibu dan mengabdi pada suaminya. Wallahu a’lam. Ia akan rela bersakit-sakit demi kebahagiaan keluarganya. Ketika sedang nikmat-nikmatnya tidur, ia ikhlas bangun ketika mendengar tangis anaknya yang lapar atau sakit. Ketika sedang enak-enaknya makan, ia tak mengeluh membersihkan kotoran anaknya yang tiba-tiba buang air. Begitu pula, ia ikhlas untuk mendahulukan keperluan anak-anaknya dibanding kepentingan pribadinya. Jelasnya, ibu tangguh itu bisa melakukan apa saja. Cerdas dalam segala bidang sehingga bisa mengajari anak-anaknya banyak hal dari segi keilmuan maupun keterampilan. Ia pun bisa menjadikan anak-anaknya berjiwa militan dengan selalu mengajarinya tentang keislaman. Menjadikan Rasulullah saw sebagai teladan yang patut dicontoh.

4. Sebagai anggota masyarakat. Peran ini takkan hilang setelah menikah, justru perannya semakin bertambah karena harus mencerdaskan masyarakatnya dengan Islam. Ia harus bisa membagi waktu antara keluarga dan dakwah. Tidak berat sebelah antara tugas yang satu dengan tugas lainnya. Ia selalu ingat peran utamanya sebagai ummu wa robbatul bayt dan dia juga tidak melalaikan kewajiban dakwahnya karena keduanya adalah sama-sama kewajiban yang dibebankan kepada setiap muslimin.

5. Sebagai Anak yang Berbakti. Meskipun setelah menikah, suaminya yang menjadi walinya bukan berarti ia meninggalkan perannya sebagai anak dari orangtuanya. Ia tetap harus berbakti dan selalu mendoakan mereka, berbuat baik dan memuliakan mereka.

6. Sebagai Menantu Dambaan. Terkadang menantu diversuskan dengan mertua, padahal andai saja semua menantu menyadari bahwa mertua adalah orangtua kita juga tentu tidak akan terjadi “perang dingin” antara mereka. kita harus ingat bahwa mertua adalah orangtua dari suami kita, mengasuhnya sejak kecil tanpa lelah hingga menjadi sedemikian sempurna kita melihatnya. Adalah tidak tahu dirinya kita, sudah mengambil anak orang, kita berbuat tidak baik kepada mertua.

Demikianlah, seorang Great Mother mampu menjadi basis perjuangan Islam. Wanita adalah tiang negara, apabila wanitanya tangguh maka negara juga akan tangguh. Anak-anak yang tangguh adalah hasil didikan ibu tangguh. Imam Syafi’i bisa menghafal al-Qur’an pada usia sembilan tahun, Ibnu Sina pada usia sepuluh tahun, ath-Thabari pada usia tujuh tahun, adalah contoh pribadi yang dididik oleh seorang ibu tangguh. Bahkan Albert Einstein yang dikeluarkan dari sekolah dasar karena dicap bodoh, siapa sangka ia bisa menciptakan bom atom. Itu karena ibunya selalu memotivasi dan mendidiknya tanpa lelah.

Setidaknya, ada empat hal yang diperlukan orangtua dalam mendidik anak-anaknya: 1. Menerima yang sedikit darinya; tidak memaksanya agar menjadi juara satu di sekolahnya, kalaupun anaknya dikatakan bodoh sekalipun oleh lingkungannya, ibu harus bisa menerima dan terus memotivasinya bahwa kepintaran manusia itu tidak bisa dinilai dengan bilangan angka, melainkan lebih luas dari itu.
2. Memaafkan yang menyulitkannya; jika anak-anak melakukan kesalahan, kita bersabar dan tidak lekas marah.
3. Tidak membebaninya; jangan menyuruhnya melakukan pekerjaan yang tidak mampu dikerjakannya.
4. Tidak pula memakinya; anak jangan dicap “bodoh”, “nakal”, dsb sebab itu akan melekat pada diri anak dan sulit untuk menciptakan citra baru bagi dirinya bahwa dirinya “baik”.

The Great Mother, singkatnya, adalah ibu yang tahu akan segala yang dibutuhkan suami, anak-anak dan masyarakatnya. Ia bisa menjadi teman yang menyenangkan di setiap waktu, serta menjadi guru yang mendidik anak-anaknya dengan kesabaran. Semoga kita semua bisa menjadi The Great Mother, sehingga bisa menjadi lingkup kecil perjuangan Islam, melahirkan para mujahid-mujahidah militan yang akan memperjuangkan kemuliaan Islam.[yN]

Allahumma amin…. wallahu a’lam bish shawab….
islamuda.com

Selengkapnya...

07 Juni 2009

Mush'ab bin Umar

Sahabat Rasul yang satu ini berasal dari suku Quraisy, sama seperti Nabi Muhammad SAW. Selain penampilan sewaktu mudanya yang tampan dan rupawan, ia pun dibesarkan dalam keadaan yang serba kecukupan dan dimanjakan oleh kedua orang tuanya. Tak mengherankan jikalau ia menjadi buah bibir gadis-gadis Mekkah dan bintang di tempat-tempat pertemuan.

Keislaman Mush'ab bin Umair diawali ketika ia mendengar tentang muhammad SAW yang mendakwahkan dirinya sebagai Rasulullah dan mengajak manusia untuk beribadah kepada Allah yang Esa. Setelah mendengar Rasulullah sering mengadakan pertemuan dengan para sahabatnya di rumah Arqam bin Abil Arqam, ia pun menyempatkan diri mengikuti majelis yang di dalamnya dibacakan ayat-ayat Al Qur'an. Wahyu yang kala itu dibacakan oleh Rasulullah didengar oleh Mush'ab hingga merasuki hatinya dan menjadi jalan hidayah Allah kepadanya.

Untuk beberapa saat lamanya, Mush'ab menyembunyikan keislamannya. Namun suatu ketika ada seseorang yang melihat gelagat Mush'ab sebagai orang yang telah mengikuti agama Muhammad dan memstorieshukan hal ini kepada ibunya. Sejak peristiwa ini cobaan terhadap keimanan sang pemuda pun mulai datang silih berganti. Mulai dari ibunya yang kemudian memenjarakannya di sebuah tempat terpencil, dua kali hijrah ke Habsyi, hingga pengusiran oleh ibunya yang tidak lagi sudi menganggapnya sebagai anak kandung. Ini juga berarti akhir dari kehidupan mewah dan perlente pemberian orang tuannya yang selama ini dinikmatinya. Begitulah, pemuda rupawan ini lebih memilih hidup miskin dan sengsara, dengan pakaiannya yang kasar dan usang, sehari makan dan beberapa hari lapar demi cintanya pada Allah.

Suatu hari pernah beberapa orang Muslimin duduk di sekeliling Rasulullah SAW. Ketika mereka memandang Mush'ab, mereka menundukkan kepala dan memejamkan mata. Sebagian dari mereka tak kuasa menahan air mata karena rasa ibanya terhadap Mush'ab. Akan tetapi Rasulullah SAW melihat Mush'ab dengan pandangan penuh arti, rasa cinta kasih dan syukur. Sambil tersenyum beliau berkata : "Dahulu saya melihat Mush'ab ini tak ada yang mengimbangi dalam memperoleh kesenangan dari orang tuannya, kemudian ditinggalkannya semua itu demi cintanya kepada Allah dan Rasul-Nya."

Begitulah keadaan Mush'ab. Namun berkurangnya atau hilangnya kemewahan dunia pada dirinya justru berakibat pada peningkatan pengabdiannya pada Allah dan Rasul-nya. Tercatat sumbangsihnya yang teramat besar bagi penegakkan kalimat Allah di muka bumi. Ia menjadi duta pertama Rasul yang diutus untuk berdakwah kepada masyarakat Madinah. Dengan sifat zuhud, kejujuran, dan kesungguhan hati, ia berhasil melunakkan dan menawan hati penduduk Madinah hingga mereka berbondong-bondong masuk Islam.

Dalam perang Uhud melawan kaum musyrik, Mush'ab mendapat kehormatan dari Rasulullah SAW untuk membawa bendera kaum Muslimin. Perang ini berlangsung sedemikian dahsyat hingga sejumlah sahabat terkemuka gugur untuk menemui Rabb mereka, tak terkecuali Mush'ab. Seusai pertempuran. Rasulullah SAW dan para sahabat datang meninjau medan pertempuran untuk mengucapkan perpisahan kepada para syuhada. Ketika mereka mendapati jasad Mush'ab, bercucuranlah air matanya. Berkatalah Khabbah Ibnul 'Urrat : "Kami hijrah di jalan Allah bersama Rasulullah SAW dengan mengharap keridhaan-Nya, hingga pastilah sudah pahala di sisi Allah. Di antara kami ada yang telah berlalu sebelum menikmati sedikitpun juga pahala di dunia ini. Termasuk Mush'ab bin Umair yang gugur di Uhud ini." Tak sehelai pun kain untuk menutupinya selain sehelai burdah. Andainya ditaruh di atas kepalanya, terbukalah kedua belah kakinya. Sebaliknya bila ditutupkan ke kakinya, terbukalah kepalanya. Sehingga Rasulullah bersabda, "Tutupkanlah kebagian kepalanya, dan kakinya tutupilah dengan rumput kizir."

***

Begitulah. Kisah ini sepertinya mengajarkan kepada kita untuk tidak terlalu terlena dan terpedaya oleh segala kemewahan dunia yang Allah berikan. Bagaimanapun juga kecintaan kepada Allah dan Rasul-Nya adalah di atas segala-galanya. Seolah kisah diatas berpesan kepada kita, "Biarlah dunia berpisah denganmu, asalkan sang Pemilik dunia dan akhirat menghampirimu".

Pelajaran lain yang menarik adalah bagaimana Rasulullah SAW bersikap terhadap Mush'ab di saat sejumlah kaum Muslimin justru merasa iba melihat kondisi penampilan Mush'ab yang jauh lebih melarat dari sebelumnya. Ketika sebagian sahabat sedih dan menangis, Rasulullah SAW justru bersyukur dan tersenyum. Yah begitulah, manusia hendaknya melihat lebih dari sekedar sisi penampakan lahir dalam menilai seseorang.***

(Sumber : Tabloid MQ EDISI 9/TH.I/JANUARI 2001)

[kotasantri.com]

Selengkapnya...

19 Mei 2009

Liberalisasi Global Menjerat Ibu dan Anak

Ibu adalah sosok yang sangat berpengaruh bagi kehidupan seseorang. Pola ibu dalam mendidik anak-anaknya memiliki andil yang sangat besar terhadap kepribadian sang anak. Sangat tepat ungkapan yang menyatakan bahwa ibu adalah guru yang pertama dan utama. Bagaimana tidak, interaksi seorang ibu kepada anaknya jauh lebih banyak dari sang ayah, yaitu dimulai sejak dalam kandungan sampai kemudian lahir bayi, tumbuh menjadi anak-anak, remaja dan dewasa..


Dengan kata lain peran ibu tidak sebatas sebagai ibu biologis yang hanya bertugas melahirkan saja tetapi juga berperan sebagai pendidik anak-anaknya. Ketika peran pendidik ini dijalankan dengan benar maka diharapkan lahirlah anak-anak yang siap menjadi generasi penerus yang tangguh.

Namun saat ini, peran ibu sebagai pendidik yang baik bagi anak-anaknya menjadi sesuatu yang sangat sulit dijalankan. Setidaknya ada dua hal yang menyebabkan peran ibu sebagai pendidik yang baik ini semakin berat dijalankan. Pertama adalah globalisasi kapitalisme yang membentuk atmosfer kapitaklistik bagi kehidupan, dan yang kedua adalah tekanan liberalisme melalui undang-undang.

Globalisasi Kapitalistik dan Pemaksaan Nilai Liberal

Globalisasi kapitalisme telah menimbulkan berbagai permasalahan bahkan membuat negara-negara berkembang mengalami krisis multidimensi. Gaya hidup kapitalis ini telah menimbulkan tekanan ekonomi dan menumbuhsuburkan penindasan pihak yang kuat terhadap pihak yang lemah termasuk kaum perempuan dan para ibu. Terlebih setelah krisis ekonomi yang menimbulkan tekanan ekonomi semakin parah, sehingga acapkali berujung pada perceraian suami istri, konflik dalam keluarga hingga terjadinya penganiayaan terhadap istri maupun anak-anak. Semua ini merupakan hasil dari globalisasi idiologi kapitalisme, idiologi yang menihilkan peran Tuhan dalam pengaturan urusan hidup di dunia dan mengusung kebebasan. Salah satu ide buah kapitalisme adalah ide kesetaraan gender (Gender Equality. Konsep kesetaraan gender ini langsung membawa dampak buruk pada kaum perempuan, termasuk ibu, dan anak-anak.

Ide gender yang saat ini sedang gencar digembar-gemborkan oleh para feminis di negeri ini, ternyata telah membawa kaum perempuan di barat menderita. Konsep kesetaraan gender, Equal Rights Amandement (ERA), telah menyebabkan peningkatan angka perceraian di AS. Data terakhir 50% pernikahan berakhir pada perceraian, bahkan di New York mencapai 70%. Konsep ERA ini juga secara langsung berdampak pada penghapusan undang-undang yang memberi perlindungan kepada kaum perempuan, cuti hamil, jam kerja malam dan lain sebagainya. Dalam tuntutan ERA, UU ini dianggap merendahkan perempuan. Keberhasilan kaum feminis AS lainnya adalah meloloskan UU Perceraian (No Fault Diforce), dimana setiap pasangan boleh menceraikan suami atau istrinya tanpa melihat siapa yang salah dan negara tidak turut campur dalam urusan perceraian.. UU Perceraian ini telah menghapuskan alimoni, yaitu hukum sebelumnya yang mengharuskan suami yang menceraikan istri memberi tunjangan kepada istri sampai istri menikah lagi. Maka kaum perempuan di barat sendiri menolak keras ide kesetaraan gender ini karena justru ide kesetaraan 50/50 telah membuat mereka tertindas dan menderita.

Di Indonesia, kondisi ekonomi yang lemah memaksa ibu-ibu keluar rumah untuk bekerja, akibatnya pendidikan anak-anak di rumah diserahkan kepada pembantu yang hanya lulus SMP dan sekolah yang hanya memperhatikan aspek kognitif, dengan sederet tugas, dan hanya sedikit memperhatikan aspek moral. Di dalam rumah anak-anak disuguhi tontonan-tontonan tidak mendidik berisi kekerasan, gaya hidup materialistik, hedonis dan hanya memuja kesenangan-kesenangan sesaat. Di luar rumah pun pengaruh yang sama diterima anak-anak, VCD, majalah dan koran yang memuat pornografi dan pornoaksi dapat dengan mudah diakses. Food, fun, dan fashion yang menjadi tren di barat diboyong ke Indonesia tanpa memperhatikan bahwa di barat sendiri gaya hidup seperti itu telah mengakibatkan kerusakan masyarakat secara meluas. Ujungnya anak-anak hidup dengan atmosfer masyarakat yang serba permisif dan liberal. Akibatnya materi dianggap sebagai Tuhan, narkoba adalah solusi untuk lari dari persoalan, dugem menjadi gaya hidup, penyakit kelamin menyebar luas dan kekerasan merajalela.

Globalisasi kapitalistik ini semakin tumbuh subur karena didukung oleh undang-undang yang mengusung nilai-nilai liberal. Berkaitan dengan ibu dan anak, nilai-nilai liberal yang diusung adalah ide kesetaraan gender. Ada beberapa undang-undang yang telah disahkan dan sedang dalam proses pengesahan yang apabila dicermati secara mendalam berusaha untuk menghancurkan nilai-nilai Islam, mengkampanyekan nilai-nilai liberal dan gender yang berujung pada hancurnya tatanan keluarga. UU PKDRT telah menjamah ranah keluarga, dimana UU ini telah menggunting ketaatan istri kepada suami, sehingga solusi-solusi yang ditawarkan adalah selalu berujung pada perceraian. Tatanan masyarakat juga dihancurkan melalui legalisasi aborsi melalui rancangan amandemen Undang-undang Kesehatan No.23 tahun 1992, legalisasi seks bebas dengan program kondomisasi dengan dalih mencegah penularan HIV/AIDS, program Kesehatan Reproduksi Remaja (KRR) yang mengarahkan remaja untuk melakukan hubungan seks tanpa harus menikah serta kuota 30 % perempuan dalam partai politik yang akan mengeluarkan ibu-ibu dari tugasnya mendidik anak-anak yang berkualitas. Belum lagi fakta terbaru tentang rencana pemerintah untuk merevisi PP Perkawinan. Kesemuanya berujung pada penghancuran dan peniadaan lembaga perkawinan.

Korban dari globalisasi kapitalisme dan undang-undang yang mengusung nilai liberal dan gender itu tak lain dan tak bukan adalah ibu dan anak. Seorang ibu dibebankan tugas ganda, mendidik anak dan pada saat yang sama mencari nafkah yang seharusnya merupakan tugas suami. Dalam konflik rumah tangga, seorang istri dipaksa menjanda melalui solusi perceraian. Korban anak-anak juga telah jelas terlihat. Kasus banyaknya korban smackdown adalah salah satu cermin kurangnya kontrol orang tua terutama ibu terhadap konsumsi tontonan anak. Belum lagi terjadinya pelecehan seksual, pemerkosaan, dan aborsi yang terus mengalami peningkatan dari tahun ke tahun. Semua ini yang paling dirugikan adalah kaum perempuan termasuk ibu dan anak-anak.

Menangkal Globalisasi dan Liberalisasi

Sekelumit paparan di atas setidaknya dapat menggambarkan betapa rusaknya masyarakat yang telah terpengaruh globalisasi kapitalisme dan liberalisme. Apakah kita masih berharap kebaikan dari ideologi kapitalis dan gaya hidup liberalis tersebut ? Sementara di barat, negara asalnya, ide ini telah membuahkan kerusakan masyarakat. Selayaknya kita segera menolak produk-produk pemikiran dan gaya hidup sekularis yang jelas-jelas membuat hidup menjadi tidak tenang dan selalui dilingkupi rasa khawatir.

Apa yang harus kita lakukan untuk menangkalnya ? Sikap yang harus kita ambil untuk menangkalnya adalah dengan, pertama, menyadari bahwa saat ini sedang berlangsung globalisasi dengan misi westernisasi (pembaratan); kedua, mengokohkan keluarga dengan memberikan pendidikan agama yang baik terhadap seluruh anggota keluarga serta menciptakan suasana keluarga yang harmonis; ketiga, tidak serta merta menerima apa-apa yang berasal dari barat khususnya berkaitan dengan gaya hidup; dan terakhir adalah menumbuhkan sikap peduli terhadap seluruh anggota masyarakat. oleh : Eko Yuniarsih, S.TP (Pemerhati Masalah Sosial)
(www.hizbut-tahrir.or.id)

Selengkapnya...

05 Mei 2009

Islam Jalan Hidupku

Kenyataan manusia memang mahluk yang sangat lemah dan serba kurang. Seorang manusia, jangan kan untuk mengetahui keinginan dan kebutuhan saja kadang dia tidak ketahui. Cara yang biasanya paling diandalkan oleh manusia adalah dugaan, dan itu pun membutuhkan pengalaman terlebih dahulu, baik itu pengalaman sendiri maupun orang lain. Itulah manusia kebenaran yang berasal darinya sangatlah relatif, mislanya benar menurut di abelum tentu benar menurut orang lain, benar bagi suatu kaum tapi tidak untuk kaum yang lain, bahkan benar saat ini belum tentu benar untuk besok.

Manusia sangatlah membutuhkan aturan, agar pda saat manusia memenuhi kebutuhannya dia tidak melanggar hak-hak orang lain. Nah apa jadinya bila manusia yang pada kenyataannya itu lemah harus membuat hukum untuk mengatur kehidupannya sendiri, maka yang terjadi munculah darinya aturan-aturan yang mengandung dugaan. Jadi, jangan heran kalau dalam sistem yang memungkinkan manusia membuat aturan/hukum entah itu teokrasi, otokrasi, monokrasi, ataupun demokrasi, peraturan itu akan berubah-ubah. Sebab yang bisa di lakukan manusia hanyalah uji coba atau eksperimen, yang jika gaga dengan mudah menggantinya, dan begitulah selanjutnya penggantinya pun ternyata gagal lagi, bahkan menimbulkan masalah baru yang padahal masalah lamanya saja tidak selesai.

Dari susut pandang dan logika diatas, kita sudah bisa mengatahui bahwa sudah selayaknya aturan itu dikembalkan pada satu-satunya dzat yang mengetahui secara sempurnahakikat penciptaan manusia, apa yang di butuhkan, dan bagaimana cara memenuhinya dengan sebaik-baiknya pemenuhan yaitu Allah SWT. Dengan kata lain, kita posisikan Allah sebagai Alhakim dan kita tinggal mentaati segala aturan yang telah ditetapkanNya.

Dari sudut pandang naluri dan perasaan seseorang yang sudah beriman kepada Allah dan yakin bahwa Allah adalah pencipta (al-khalik), pasti akan tunduk kepada setiap Aturan-Nya. Hal ini sangat wajar karena seorang hamba secara aluriah akan memenuhi semua perintah dan larangan Tuhannya (dalam hal ini adalah Allah), karena dialah yang Maha Mengetahui hakikat manusia, baik dan buruknya bagi manusia. Sungguh betapa sombongnya manusia jika mencampkan dan enggan menggunakan aturanNya dan betapa carut marutnya kehidupan saat aturanNya tidak digunakan sebagai solusi permasalahan.

Padahal telah jelas Allah berfirman : “…. Menetapkan hukum itu hanyalah Allah. Dia menerangkan yang sebenarnya dan Dia pemberi keputusan yang paling baik.” (Q.S Al-an’am : 57), selain itu dijelaskan pula dalam surat al-maidah: 50, Hud : 45, dan suart at-tiin : 8.

Apabila kita beriman kepada Allah SWT dan RasulNya serta al_qur’an itu adalah kalamullah sebagai konsekuensinya kita dengan rela akan menjalankan seluruh perintahNya dan menjauhi apa-apa yang dilarang-Nya. Allah SWT berfirman :

“Maka demi Tuhanmu, mereka (pada hakikatnya) tidak beriman hingga mereka menjadikan kamu hakim terhadap perkara yang mereka perselisihkan, kemudian mereka tidak merasa dalam hari mereka sesuatu keberatan terhadap putusan yang kamy berikan, dan mereka menerima dengan sepenuhnya.” (An-Nisa : 65)


Jadi dari sudut pandang manapun manusia tidak bisa lari dari kenyataan bahwa Allah adalah al-hakim. Hukum Islam atau hukum Allah apabila diterapkan dalam kehidupan manusia akan menenangkan akal dan menentramkan jiwa, dan tentunya akan sesuai dengan fitrah manusia.

Berkaitan dengan hal tersebut diatas, seorang manusia haruslah menyesuaikan seluruh perbuatannya kepada perintah dan larangan syara. Dalam pembahasan fikih dikenal suatu kaidah usul yang artinya “hukum asal perbuatan adalah terikat hukum syara.” Seorang muslim sudah seharusnya apabila ingin melakukan suatu perbuatan hendaklah ia mencari hukumnya terlebih dahulu. Apakah itu wajib, sunah, makruh, mubah, atau haram. Sedangkan hukum untuk benda adalah ibadah (boleh) selama tidak ada dalil yang mengharamkannya.


Selengkapnya...

23 April 2009

Remaja Mencari Cinta Sejati

Sepanjang umur bumi kayaknya udah bejuta-juta syair lagu yang mengkisahkan tentang dua sejoli yang sedang dimabuk asmara tercipta. ¯“Satu jam saja ku telah bisa cintai kamu..kamu..”¯ Begitu Charli ST 12 melantukan syair lagu dengan suara melayunya yang khas itu. Tapi, seperti apa cinta sejati itu???
Thats right, entah sudah berapa juta lagu, dan entah berapa mil syair tercipta yang mengisahkan cinta. Kebanyakan dari itu adalah mengisahkan cinta sepasang anak manusia.

Bercerita tentang cinta kasih sepasang remaja di skulnya atau kul.nya pasti ga akan lepas dengan yang namanya
P A C A R A N!!!!!.
Seperti yang dikisahkan oleh kumbang (nama samaran) yang dikisahkan kepada Majalah Permata, dia udah pacaran sejak smu, pacaran yang biasa-biasa aja akunya, tapi temannya doski ada yang gaya pacarannya ’seram’ (maksudnya pacaran sama kun… waduh itu mah suerem beneran…) “karena pacarannya terlalu gimana, akhirnya tamu yang setiap bulan rutin mendatangi pacarnya telat (cerita selanjutnya terserah anda, he.he.). Tentunya masih banyak lagi cerita-cerita ‘manis’ tentang kisah cinta dari remaja. Tapi apakah cerita-cerita itu benar-benar ‘manis’ atau malah ‘menyeramkan?. Sebagai remaja muslim kayaknya ko ketinggalan banget kalau kita ‘ga ngebahas tentang ini soalnnya al-qur’an juga ngebahas tentang cinta ini, ga Percaya liat Qur’an surat Ali-Imran : 14, yang artinya “Dijadikan indah pada manusia kecintaan kepada apa-apa yang dingini, yaitu: wanita-wanita, anak-anak, harta yang banyak dari jenis emas, perak, kuda pilihan, binatang-binatang ternak”
“cinta sejati, Apaan tuhh??!!??”
Kecintaan seorang laki-laki terhadap wanita, begitu sebaliknya, atau kecintaan kita terhadap anak (bila kita udah jadi ortu nanti), bahkan kecintaan terhadap harta, adalah bagian dari penciptaan manusia. Kita yang dhoif ini ga bakal bisa ‘membunuh’ kecintaan tersebut. Tapi yang bisa kita lakukan adalah mengaturnya, atau kerennya kita tinggal me-manage-nya. Untuk itulah Islam diturunkan.
Tapi sebelum jauh kita ngebahas tentang aturan tadi, ada baiknya kita paham dulu apa cinta sejati itu karma semua penduduk dunia ini menginginkan hal ini. Dengan cinta semua akan berjalan mulus, segala tindakan akan berbuah kebahagiaan, sebab dengan cinta kita akan bahagia duuhh bikin puisi neng…)
Tapi ini serius segala sesuatu yang dibangun atas nama cinta akan membuat yang membangunnya bahagia, hanya saja cinta yang menjadi landasannya itu harus cinta sejati, bukan cinta semu.
Cinta sejati itu adalah cinta yang tak lapuk karena hujan, tak berkalang karna panas. Cinta sejati juga adalah cinta yang unconditional, mau dalam keadaan seneng, sedih tetep tegar berdiri, sekalipun ombak, tsunami, angin putting beliung, bahkan tornado menerjang. Ujung tombak pun ‘gak akan membuatnya berhenti, mati pun ga jadi soal. Semuanya ini bakal ada bila itu adalah cinta sejati, bila bukan cinta sejati maka hal tadi hanya akan menjadi syair picisan saja. Tapi pertanyaannya ‘ada ga cinta sejati itu. Jawabannya A D A, yaitu cinta kepada segala hal yang ditempatkan setelah kecintaannya terhadap Allah SWT dan Rasul-Nya. Jadi sebenarnya cinta sejati yang nomor satu adalah kecintaan kita kepada Allah SWT dan Rasul-Nya. Kita sebagai manusia memang diberi potensi untuk mencintai apapun yang ada di bumi ini, tapi kecintaan kita terhadap segala sesuatu itu akan menjadi cinta sejati jika kita tempatkan setelah kita mencintai Allah dan Rasul-Nya.
Jadi kesimpulannya kalo penempetannya tepat cinta sejati akan didapat.

Yang jadi persoalannya adalah gimana cinta kita terhadap Allah dan Rasul-NYa menjadi cinta dengan urutan yang pertama. OK coba pikirkan bila kita mencintai seseorang, kita akan memperhatikan apa yang dikatakannya. Bila kita mencintai Allah dan Rasul-Nya, tentu kita akan selalu memperhatikan Firman Allah dan sabda Rasul-Nya. Dan perhatian kita terhadap hal ini melebihi perhatian terhadap kata-kata siapapun. Apa yang menurut kita baik, belum kita nyatakan baik sebelum Allah dan Rasul-Nya menyatakan hal tersebut baik pula. Begitu pula mengenai hal yang buruk, kita akan nyatakan sesuatu itu buruk jika Alla dan Rasul-Nya menyatakan itu buruk pula. Apa yang kita sukai, belum tentu itu yang benar, atau apa yang kita benci belum tentu itu hal yang buruk. Firman-Nya :”Boleh jadi kamu membeci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu, dan boleh jadi kamu menyukai sesuatu padahal ia amat buruk bagimu; Allah mengetahui sedang kamu tidak mengatahui” (Al-Baqarah (2) : 216).
Semuanya, baik-buruk, benar-salah, diserahkan kepada pihak yang dicintainya, yaitu Allah dan rasul-Nya. Ini bukan ’cinta buta’ tapi ini dibangun dari pemahaman yang benar tentang cinta. Allah adalah yang menciptakan kita dan mencukupkan rizki kita. Dia pula yang lebih tau apa yang baik dan buruk buat kita, Ia lebih tau dari siapapun bahakan kita sendiri. Rasul-NYa adalah manusia yang diberi wahyu untuk menerangkan semua itu dan mempraktikannya (untuk contoh bagi kita).
Allah SWT menurunkan aturan-aturan-Nya kepada kita. Dia tidak ingin kita celaka di akhirat begitupun Rasul-NYa. Tentu, kita harus membalas cinta ini dengan memperhatikan seruan-Nya sekalipun sebenarnya kitalah yang butuh terhadap-NYa
So kayaknya kita jadi makhluk yang paling bodoh kalau kita masih asyik memelihara cinta-cinta yang semu dan menjadikannya urutan pertama. Jadi ayo kita bersegerah menyambut Cinta Allah SWT dan Rasul-Nya dengan selalu taat kepada apa yang Dia perintahkan.

Lanar 09 inspired by Majalah PERMATA



Selengkapnya...

28 Maret 2009

Mencari Sahabat Sejati

Ga ada manusia yang bisa hidup sendiri. Sehebat apapun dirinya. Setinggi apapun gelar pendidikannya. Tiap orang pasti butuh yang namanya sahabat. Mungkin kita sendiri ga sadar, kapanpun dan dimanapun kita berada, kita musti ingin berinteraksi dengan orang-orang di sekitar kita. Kita ga akan mau dicuekin gitu aja. Dikacangin, apalagi ditinggalin. Soalnya kentut sembarangan sih, bauk tauk..!!. Kaciyan tuh. Mau kita sih, pengen interaksi ama siapa aja, baik ama tukang koran, tukang sayur, atawa tukang ledeng, tapi yang pasti jangan mau ngomong ama tukang tipu. Hehe. Ini normal kok. Karena itu udah jadi fitrah manusia. Ga akan bisa kita hindari.


Nah, model saling ungkap kata dan interaksi inilah yang bisa merajut benang pertemanan, persahabatan, atau bahkan rasa cinta. Ya, kata-kata memang sakti banget. Lebih manjur dari batu celupnya Ponari atau tongkat sihirnya Harry Potter. Wacaow. Awalnya simpel. Tinggal saling cerita, saling umpan kalimat, dan akhirnya nyambung deh. Nah, mayoritas persahabatan diawali dengan untaian kata-kata yang saling konek satu sama lain. Bukanlah pertemanan sejati kalo dimulai dengan harta atau kedudukan. Semisal kong kalikong dari orang yang mau jadi caleg, koalisi parpol atau ndusel ama orang yang dapat warisan seluas lumpur lapindo. Buseet…

Selain itu, banyak diantara kita yang dapat teman dari tempat yang sering ditongkrongin. Kalo kita biasa kumpul ama anak-anak gank, rekan kita juga bakal didapat dari sana. Demikian juga kalo kita sering bergaul ama anak-anak rohis, atau SKI. Pasti fotokopian kita, juga akan diperoleh dari sana. Jadi ga salah ketika Rasulullah bilang, kalo sifat seseorang ga akan jauh beda dengan sifat temannya. Ibarat pinang dibelah dua. Udah klop satu sama lain. Seperti cermin, satu orang adalah bayangan bagi yang lain. Bagaikan dua sisi mata uang, yang ga bisa dipisahkan. Nah, begitulah gambaran seorang sahabat. Baik atau tidaknya perilaku kita, langsung atau enggak, bisa nular dari sahabat. So, hati-hati lho kalo mau nyari sahabat. Jangan asal comot, bisa nggigit nanti. Emangnya kucing dalam karung!! Lho, jangan salah, ga sedikit rekan kita yang kejebak di lembah hitam gara-gara rekannya. Dan banyak juga sobat yang bisa sadar dan kembali ke jalan Allah karena sahabatnya. Jadi, boleh dibilang, kalo sahabat itu punya peran yang amat besar dalam hidup kita. Sehingga pencarian seorang sahabat sejati, ga salah bila kudu kita ungkap dan telusuri. Supaya kita ga salah langkah nanti. Oke deh…

Tips Bersahabat Ria
Punya sahabat adalah kebahagiaan yang tiada tara. Apalagi buat remaja, sahabat punya makna yang ga ternilai. Karena dengan sahabat, berarti kita sudah menemukan kepercayaan dan pengertian. Soalnya, kepercayaan dan pengertian, ga akan mampu kita bagi selain dengan sahabat sejati. Banyak banget lho kisah persahabatan yang terungkap di layar lebar, yang nunjukin kalo arti sahabat itu sangat bermakna. Sahabat bisa berjumlah banyak seperti Laskar Pelangi. Namun ada juga yang bisa dihitung hanya dengan telunjuk alias satu doang, seperti Abdel dan Temon. Malahan, masyarakat barat menganggap hewanlah sahabat sejati manusia. Seperti anjing dan kucing. Soalnya ga rewel dan ga ngomelan kali ya…(ye, emangnya anjing bisa ngomel apa??).Tapi ada juga yang menggambarkan sahabat dari dunia lain, seperti Tuyul dan Mbak Yul. Wacaow, ini sih kalo mau curhat repot, soalnya ga ada nomor hpnya …(hehehe).

By the way, seklumit contoh tadi selayaknya udah menggugah kita tentang pentingnya sahabat (ye…nidji bangeet). Dan, karena kita seorang muslim, untuk mendapatkan kriteria sahabat yang tepat, kita kudu ngikut gimana Rasulullah SAW ngasih contoh. Ga asal ambil aja. Mentang-mentang tampang bening dan tajir, eh…mau kita jadi sahabat. Sedang kalo orangnya romusa alias rombongan manusia susah, ogah banget kita berteman ama mereka. Waduh sobat, ini kekeliruan besar yang kudu kita benahi bersama. Nah, supaya ga salah langkah lagi, monggo tips di bawah ini dibaca:

1. Sahabat sejati diupayakan yang sama akidahnya alias muslim atau muslimah. Bukannya kita mau ngungkit perbedaan SARA. Tapi inilah yang dicontohkan Islam. Soalnya, sebagian besar sahabat itu ngerti kebiasaan rekannya mulai dari tidur ampe tidur lagi. Belum lagi kebiasaan sahabat bisa aja nular ke kita secara langsung. Bayangin aja, kalo best fren kita bukan muslim, trus ga biasa sholat. Bisa-bisa nanti kita ketularan ga ngerjain sholat juga tuh. Nah, inilah yang dikuatirkan kalo yang kita jadikan sahabat itu adalah rekan yang berbeda iman. Untuk hal ini Rasulullah SAW udah ngingetin kita, ”Orang itu mengikuti agama teman dekatnya; karena itu perhatikanlah dengan siapa ia berteman dekat.” (HR Tirmidzi). Selain itu Allah SWT udah berfirman, ”Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu ambil menjadi teman kepercayaanmu orang-orang yang, di luar kalanganmu (karena) mereka tidak henti-hentinya (menimbulkan) kemudharatan bagimu.” (TQS. Ali-Imran: 118)

2. Sahabat sejati usahakan yang sesama jenis kelamin. Kalo cewek ya ama cewek. Demikian juga yang cowok, kalo mau cari teman lengket, ya kudu sama-sama cowok juga. Bukan berarti kita nggiring kamu supaya suka sesama jenis lho.Wekk...byor. Bukan maksud kita supaya kamu ga bisa berteman dengan lawan jenis. Tapi tujuan kita, biar kamu ga kejerumus ke dalam lembah pacaran bahkan perzinahan. Soalnya, ga dikit lho cowok yang awalnya bersahabat dengan cewek, eh ujung-ujungnya kena virus merah jambu. Masih ingat kan kisah Rahul dan Anjali dalam film Kuch Kuch Hotta Hai. Awalnya saling gengsi dan sahabatan, ealah, akhirnya malah pacaran. Kalo udah gini, kan kita bakal kena dosa ding. Lagipula banyak banget batasan pergaulan antara pria dan wanita dalam Islam. Khususnya yang belum jadi mahram kita. Dan semuanya, kudu kita patuhi rambu-rambunya. Kalo kamu masih maksa pengen sahabatan ama lawan jenis, lebih baik ijab kabul aja dulu ama dia, alias nikah. Gimana..berani ga??!

3. Carilah sahabat yang mau diajak ke jalan kebaikan. Artinya kamu kudu cinta dia karena Allah, dan benci dia juga karena Allah. Bukan rekan kamu, kalo dia malah ngajak kamu berbuat dosa dan maksiat. Semisal, ada teman kamu satu kelas yang ngajak ngedrugs atau bolos bareng-bareng. Kalo ada yang nolak, dia bakal nganggep orang tadi bukan sahabatnya. Buseeet..Kalo seperti ini yang dimaksud persahabatan, bumi bisa kacau fren. So, kalo ada teman kita yang seperti itu, diingatkan aja. Ga usah takut dibenci lah, dijauhi lah, dianggap kuper lah...Karena itu hanya anggapan dia sesaat doang. Lagipula, kalo kita biarin dia berbuat maksiat, justru sebenarnya kita ga care ama dia. Ga peduli ama dia. Ga sayang dengan dia. Ga salah kalo kita simak ucapan Ali bin Abi Thalib r.a, “Berikanlah perhatian kepada sahabatmu, karena mereka menjadi bekal kalian di dunia dan di akhirat. Tidakkah kalian mendengar tangisan manusia di dalam api neraka?”.

4. Oya, yang terakhir dari tips kita adalah, carilah best friends yang saling mengutamakan dan mengerti satu sama lain. Tentunya standar yang kita pake adalah aturan Islam. Ini penting lho, soalnya yang namanya ikatan sesama manusia ga ada yang mulus, terkadang longgar dan kadang setel kenceng. Disinilah letak pengertian antar rekan. Termasuk di dalamnya adalah saling menutup aib rekannya yang lain. Kekurangan sahabat kita, yang memang ga perlu diungkap, jangan diomongin ke orang lain. Bisa-bisa sekolah kita jadi media infotainment dadakan. Karena, aib rekan, kita gosipin kemana-mana. Kalo bisa, ingatkan aja dia terus-menerus, sampe dia sadar dan kembali berbuat baik, jangan diobral, nanti minta diskon lagi...(eit shopping kali...).

Untuk yang satu ini, Rasulullah SAW bersabda, “Siapa saja yang menyembunyikan (aib) seorang muslim, maka Allah akan menyembunyikan (aibnya) di dunia dan akhirat. Allah akan menolong seorang hamba yang gemar menolong saudaranya.” (HR. Muslim).


Jadi Best Friend, Ga Gampang
Sobat, kata orang, mudah untuk mencari teman kala tertawa, tapi sulit mendapat teman kala menangis. Ya, kalo kita pengen jadi teman sejati orang lain, seharusnya kita paham apa hak dan apa kewajiban kita pada dirinya. Kita memang berhak dihormati dan dihargai, tapi jangan lupa, teman kita juga punya hak yang sama dari kita. Dalam kitab Ihya Ulumuddin, Al Ghazali menuangkan tulisannya, “Tidaklah seorang menemani sahabatnya, meskipun hanya sesaat di siang hari, kecuali ia akan ditanya (tentang tanggung jawabnya) dalam persahabatan itu, apakah dia melaksanakan hak-hak Allah atau mengabaikannya.” Supaya kita ngerti, apa hak dan kewajiban kita atas sahabat kita tadi, mau ga mau, kita kudu belajar Islam. Karena hanya dengan belajar Islam, kita bisa menjadikan sebuah persahabatan menjadi indah dan barokah. Asyik kan..

Dikala teman kita mendapat kegembiraan, kita kudu berupaya mengingatkan dia supaya ga larut dalam euforia, dan lebih banyak bersyukur pada Allah. Semisal, kalo teman kita tadi mendapat rizki yang melimpah, seyogyanya kita ngingetin dia untuk berzakat dan berinfaq. Demikian pula kalo rekan kita mendapat musibah, sebagai seorang sahabat, kita kudu sharring ama dia dan ngomong, kalo segalanya berasal dari Allah dan akan kembali pada-Nya. Dan jangan lupa, kita juga harus membangkitkan lagi semangatnya. Seklumit kisah tentang sahabat yang kita tulis disini, moga jadi titik awal kita untuk bersahabat secara benar dan syar’i. Lagi-lagi kita ga bosan untuk ngingatin diri kita dan sobat semua untuk belajar Islam. Karena disinilah pangkal dari semua kebaikan. Kalo sobat udah mulai belajar Islam, maka istiqomahlah. Jangan mandeg di tengah jalan. Kalopun di dunia kita ga bisa ketemu dan menjadi teman baik, moga kita semua nanti bisa bertemu di surga dan jadi sahabat sejati disana. Amin. (islamuda.com)

Selengkapnya...

Asma' Binti Abu Bakar

Asma’ binti Abu Bakar r.ha. sudah memeluk Islam sejak masa-masa awal datangnya Islam. Beliau adalah saudarinya ibunda Aisyah r.ha.
Suatu waktu, ketika Rasullah saw. dengan Abu Bakar r.a. telah memerintah Zaid r.a. dan beberapa orang pegawainya untuk mengambil kudanya dan keluarganya untuk dibawa ke Madinah.

Asma, r.ha. berhijrah dengan rombongan tersebut. Sesampainya di Quba – dari rahim Asma r.ha. – lahirlah putra pertamanyam yakni Abdullah bin Zubair r.a.

Dalam sejarah Islam, itulah bayi pertama yang dilahirkan setelah hijrah. Pada zaman itu banyak terjadi kesulitan, kesusahan, kemiskinan, dan kelaparan. Tetapi pada zaman itu juga muncul kehebatan dan keberanian yang tiada bandingannya.


Dalam sebuah riwayat dari Bukhari dicertakan bahwa Asma’ r.ha. sendiri pernah menceritakan tentang keadaan hidupnya,“Ketika aku menikah dengan Zubair r.a., ia tidak memiliki harta sedikit pun, tidak memiliki tanah, tidak memiliki pembantu untuk membantu pekerjaan, dan juga tidak memiliki sesuatu apa pun. Hanya ada satu unta milikku yang biasa digunakan untuk membawa air, juga seekor kuda. Dengan unta tersebut, kami dapat membawa rumput dan lain-lainnya. AKulah yang menumbuk kurma untuk makanan hewan-hewan tersebtu. Aku sendirilah yang mengisi tempat air sampai penuh. Apabila embernya peceh, aku sendirilah yang memperbaikinya. Pekerjaan merawat kuda, seperti mencarikan rumput dan memberinya makan, juga aku sendiri yang melakukannya. Semua pekerjaan yang paling sulit bagiku adalah memberi makan kuda. Aku kurang pandai membuat roti. Untuk membuat roti, biasanya aku hanya mencampurkan gandum dengan air, kemudian kubawa kepada wanita tetangga, yaitu seorang wanita Anshar, agar ia memasakkannya. Ia adalah seorang wanita yang ikhlas. Dialah yang memasakkan roti untukku.

Ketika Rasulullah saw. sampai di madinah, maka Zubair r.a. telah diberi hadiah oleh Rasulullah saw. berupa sebidang tanah, seluas kurang lebih 2 mil (jauhnya dari kota). Lalu, kebun itu kami tanami pohon-pohon kurma. Suatu ketika, aku sedang berjalan sambil membawa kurma di atas kepalaku yang aku ambil dari kebun tersebut. Di tengah jalan aku bertemu Rasulullah saw. dan beberapa sahabat Anshar lainnya yang sedang menunggang unta. Setelah Rasulullah saw melihatku, beliau pun menghentikan untanya. Kemudian beliau mengisyaratkan agar aku naik ke atas unta beliau. Aku merasa sangat malu dengan laki-laki lainnya. Demikian pula aku khawatir terhada Zubair r.a. yang sangat pencemburu. Aku khawatir ia akan marah. Memahami perasaanku, Rasulullah membiarkanku dan meninggalkanku. Lalu segera aku pulang ke rumah.

Setibanya di rumah, aku menceritakan peristiwa tersebut kepada Zubair r.a. tentang perasaanku yang sangat malu dan kekhawatiranku jangan-jangan Zubair r.a. merasa cemburu sehingga menyebabkannya menjadi marah. Zubair r.a berkata, “Demi Allah aku lebih cemburu kepadamu yang selalu membawa isi-isi kurma di atas kepalamu sementara aku tidak dapat membantumu.”

Setelah itu Abu Bakar, ayah Asma’ r.ha., memberikan seorang hamba sahaya kepada Asma’. Dengan adanya pembantu di rumahnya, maka pekerjaan rumah tangga dapat diselesaikan dengan ringan, seolah-olah aku telah terbebas dari penjara.

Ketika Abu Bakar ash-shidiq r.a. berhijrah, sedikit pun tidak terpikirkan olehnya untuk meninggalkan sesuatu untuk keluarganya. Ia berhijrah bersama-sama Rasulullah saw. Untuk keperluan itu, seluruh kekayaan yang ia miliki, sejumlah lebih kurang 5 atau 6 dirham dibawa serta dalam perjalanan tersebut. Setelah kepergiannya, ayah Abu Bakar r.a. yakni Abu Qahafah yang buta penglihatannya dan sampai saat itu belum masuk Islam mendatangi cucunya, Asma r.ha. dan Aisyah r.ha. agar mereka tidak bersedih karena telah ditinggal oleh ayahnya. Ia berkata kepada mereka, “Aku telah menduga bahwa Abu Bakar r.a. telah menyebabkalian susah. Tentunya seluruh hartanya telah dibawa serta olehnya. Sungguh ia telah semakin banyak membebani kalian.”

Menanggapi perkataan kakeknya, Asma r.ha. berkata, “Tidak, tidak, wahai kakek. Ayah juga meninggalkan hartanya untuk kami.” Sambil berkata demikian ia mengumpulkan kerikil-kerikil kecil kemudian diletakkannya di tempat Abu Bakar biasa menyimpan uang dirhamnya, lalu ditaruh di atas selembar kain. Kemudian dipegangnya tangan kakeknya untuk merabanya. Kakeknya mengira bahwa kerikil yang telah dirabnya itu adalah uang. Akhirnya kakeknya berkata, “Ayahmu memang telah berbuat baik. Kalian telah ditinggalkan dalam keadaan yang baik.” Sesudah itu, Asma r.ha. berkata, “Demi Allah, sesungguhnya ayahku tidak meninggalkan harta sedikit pun. Aku berbuat demikian semata-mata untuk menenangkan hati kakek, supaya kakek tidak bersedih hati.”

Asma’ r.ha. memiliki sifat yang sangat dermawan. Pada mulanya, apabila ia akan mengeluarkan harta di jalan Allah ia akan menghitungnya dan menimbangnya. Akan tetapi, setelah Rasulullah saw. bersabda, “Janganlah kalian menyimpan-nyimpan atau menghitung-hitung (harta yang akan diinfakkan). Apabila mampu, belanjakanlah sebanyak mungkin.”

Akhirnya setelah mendengar nasihat ini, Asma r.ha. semakin banyak menyumbangkan hartanya. Ia juga selalu menasehati anak-anak dan perempuan-perempuan yang ada di rumahnya, “Hendaklah kalian selalu meningkatkan diri dalam membelanjakan harta di jalan Allah, jangan menunggu-nunggu kelebihan harta kita dari keperluan-keperluan kita (yaitu jika ada sisa harta setelah dibelanjakan untuk keperluan membeli barang-barang, barulah sisa tersebut disedekahkan.) Jangan kalian berpikir tentang sisanya. Jika kalian selalu menunggu sisanya, sedangkan keperluan kalian bertambah banyak, maka itu tidak akan mencukupi keperluan kalian sehingga kita tidak memiliki kesempatan untuk membelanjakannya di jalan Allah. Jika keperluan itu disumbangkan di jalan Allah, maka kalian tidak akan mengalami kerugian selamanya.”

sumber: muslimmuda.com
Selengkapnya...

Hapus Tradisi Malam Minggu

Aduuh, kalo udah ngomongin malam minggu, seru abis deh jadinya. Kayak lagu yang dibawain Bang Jamal Mirdad “Malam minggu malam yang panjang, malam yang asik buat pacaran, pacar baru, baru kenalan, kenal di jalan jendral sudirman.” Lain Bang Jamal, lain pula Mas Jikustik. Lagunya yang berlirik, “Malam ini malam minggu, kau menunggu di rumahmu, selamat malam dunia, ku siap tuk berpesta, tunggu aku disana, bertemu oh baby, selamat malam dunia, gairahku berpesta, kita lewati malam, berdua oh baby”.

Emang ga bisa dipungkiri deh, ada sebuah ikatan antara weekend day alias malam minggu dengan jiwa remaja. Jika ada remaja yang ga hang out pas weekend day, siap-siap deh dijadiin bahan gosip ama tetangga sebelah yang kurang kerjaan. Dari anak jadul alias jaman dulu, ga gaul, ga punya gebetan, jomblo, sampe dianggap dukun, soalnya terus aja bertapa di dalam rumah (emang besok keluar angka berapa mas…togel kali…). Hehehe, nah sobat, biasanya di malam minggu ada aja kegiatan seorang remaja, kalo ga ada kegiatan, ya di ada-adain, supaya keliatan sibuk banget. Dari aktifitas sekedar iseng, jalan-jalan, kumpul bareng teman satu kelas, sampe clubbing hingga pagi. Yang penting, di weekend day ada temen yang bisa diajak untuk jalan. Sepertinya ga seru banget deh kalo sabtu malam minggu hanya dihabisin dengan duduk termenung, apalagi di dalam kamar mandi. Hehehe...

Fenomena Sebuah Malam

Sobat, malam minggu adalah malam yang sangat dinanti. Apalagi untuk kita yang masih muda. Pengen ke mall-lah, pengen jalan-jalan lah, ngeceng lah, pokoknya udah bejibun kegiatan, ada di pikiran kita. Hanya untuk menghabiskan waktu berakhir pekan. Memang bener, perayaan weekend susah banget dilupain. Dikarenakan auranya yang begitu lekat di jiwa semua orang, khususon yang masih imut dan muda. Tapi kalo yang sudah bermutu atau bermuka tua, nanti dulu yee, ngantri. Nah sobat, feeling yang dekat inilah yang ngebikin suasana malam minggu sepertinya sangat istimewa. Sebut aja deh, kalo kita inget pacar, maka kita pasti ingat weekend day. Malahan tradisinya, jalan-jalan di seluruh kota, dibuat lebih ramai dari hari biasanya. Di seluruh ruas jalan dipadati oleh manusia yang ingin menikmati weekend day. Taman kota yang sepi pengunjung pada hari biasa, mendadak ramai ketika malam minggu tiba. Yang pasti jarang banget di malam minggu jalanan bakal sepi, kecuali pas BBM naik lagi....hehe sebel.

Ngapain aja seh, di malam minggu? Di id.answer.yahoo.com, buanyak banget remaja yang ngasih masukan, ngapain aja enaknya di malam minggu. Nickname freelho menjawab, “Ya yang asyik, pergi ke warnet, chatting atau cari kenalan baru dong, siapa tahu ada yang cocok.” Gubrak. Sedangkan nickname Bang aji ngasih komen, “Kalo memang merasa jomblo, baeknya cari pasangan / pacar..., asyik kok berlama-lama di internet.” Eit, udah deh, itu kayaknya udah cukup mewakili temen-temen kita yang lain. So pasti jawabannya ga jauh beda. Iya kan.

Sobat, kita mungkin ngerasa hepi ketika weekend tiba. Feeling fun kumpul ama teman se-gank, sekelas atau cuma sekedar nongkrong di pinggir jalan. Kita ngerasa kalo hal tersebut menyenangkan, meski kita tahu, detik demi detik umur kita banyak kebuang sia-sia. Ga sedikit lho, temen kita yang ngehabisin waktu, tenaga dan uang untuk sekedar menikmati malam minggu. Bahkan rela puasa seminggu penuh, karena ngempet pengen apel bareng doi. Ati-ati lho fren, rutinitas yang sia-sia di malam minggu bisa jadi, akan bikin kita nyesel di kemudian hari. Apalagi kalo kita udah tua nanti. Sudah banyak sobat, contoh orang-orang yang ketika tua menyesali masa mudanya. Mereka sebelumnya tidak menggunakan waktu dengan seefisien mungkin. Mereka cenderung ngelepasin waktu yang berharga begitu saja. Nah, berdasarkan survei (tahun 2006) terhadap warga Belgia yang berusia di atas 60 tahun, diperoleh informasi yang cukup mengejutkan. Hampir semua manula tersebut nyesel karena udah mengabaikan masa muda mereka. 72 % - menyesal karena kurang bekerja keras sewaktu masih muda, 67 % - menyesal karena salah memilih profesi atau karier, 63 % - menyesal karena kurang waktu mendidik anak mereka atau menggunakan pola didik yang salah, 58% - menyesal karena kurang berolahraga dan menjaga kesehatan, 11% - menyesal karena tidak memiliki cukup uang. Nah lho..

Ehem, ada pepatah Jawa yang bilang, “Blangkon (topi ala Jawa) iku bendholane nang ngguri, gak nang ngarep.” Artinya blangkon itu benjolannya di belakang, ga bakal ada di depan. Kalimat tadi itu punya makna, kalo penyesalan ga pernah datang di awal, tetapi selalu datang di akhir. Jadi kalo masa muda kita habisin dengan hura-hura doang, tanpa kera macan, alias kerja keras-main cantik, jangan kaget lho, kalo masa tua kita akan penuh dengan kekecewaan. Ya, ga puas ama masa tua, gara-gara sewaktu muda ga kita gunakan sebaik-baiknya, seperti survei yang udah kita ungkap di atas. Nyesel deh...

Sobat, Allah SWT udah ngewanti-wanti kita soal manajemen waktu. Kita diperintahkan untuk memanfaatkan waktu sebaik-baiknya. Dan kalo kita membiarkan menit demi menit berlalu begitu saja, bersiaplah untuk menjadi orang-orang yang merugi. Di dunia, lebih-lebih di akhirat. Allah SWT berfirman, “Demi masa. Sesungguhnya manusia itu benar-benar dalam kerugian. Kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh dan nasehat menasehati supaya mentaati kebenaran dan nasehat menasehati supaya menetapi kesabaran.” (TQS. Al ’Ashr: 1-3).

Seharusnya, kita sudah mulai berpikir saat ini juga, tentang siapa kita, untuk apa kita di dunia, dan akan kemana kita setelah meninggal nanti. Tentunya ga cukup dengan sekedar menjawab tiga pertanyaan tadi saja. Tapi juga butuh realisasi. Artinya ga cukup, kalo kita hidup di dunia hanya sekedar bersenang-senang aja. Bener sobat, it’s not enough. Kita juga kudu mempersiapkan bekal kita untuk menghadap Allah SWT kelak. Nah, kalo masa muda kita banyak difokusin ke perayaan malam mingguan, mau jadi apa neh di akhirat nanti?

Kebahagiaan Semu

Sobat, perlu kita ingat juga, kalo selama kita di dunia, Allah SWT udah ngasih kita rizki yang ga bisa dihitung. Mulai dari iman, kesehatan, harta, dll. Pokoknya buanyak deh. Nah, soal nikmat yang sedemikian besar, mau kita apakan se..? Apa mau kita sia-siakan begitu saja, atau malah kita manfaatkan dengan hura-hura semata? Semisal harta. Bisa aja berupa uang, perhiasan, HP, komputer dan semacamnya. Mau kita apakan itu semua? Terkadang kita ngerasa, kalo berbagai harta benda yang kita punya, itu murni hasil kerja keras kita. Eling fren, bukan pekerjaan yang bisa njadikan kita kaya, tapi Allah SWT. Buktinya, banyak lho orang yang ga kerja tapi bisa kaya. Contohnya dapat warisan atau undian berhadiah. Dan banyak juga lho, orang yang kerja tapi ga kaya-kaya, kayak kita neh…hehe.

Nah, harta yang ada di sekitar kita itu mau kita belanjakan untuk apa. Kalo harta itu kita gelontorin ke perayaan malam mingguan, semisal pacaran, apel, nonton bioskop, ngeceng dan lain-lain, dijamin, harta kita tadi ga bakal bernilai apa-apa. Alias dapat nilai nol. Apalagi kalo harta yang kita punya tadi dipake untuk perbuatan maksiat pada Allah. Udah ga dapat pahala, beli api neraka. Hy, syerem. Sobat, Allah SWT udah berfirman, “...Dan janganlah kamu menghabur-hamburkan (hartamu) secara boros.” (TQS. Al-Israa’: 26). Sekiranya, ayat tadi udah cukup memberi wejangan untuk kita supaya bisa ngelola harta kita dengan sebaik-baiknya.

By the way fren, setelah kita ngebahas soal memanfaatkan waktu dan harta yang kita punya, supaya ga sia-sia. Kembali deh kita ke topik malam mingguan. Nah, sobat, banyak temen kita menganggap kesenangan yang didapat dengan jalan bareng pacar, mojok di taman, atau boncengan ama doi, itu adalah kebahagiaan. Sorry, kita kudu bilang itu semua salah besar. Kenapa? Nah, balik aja ke fondasi ajaran Islam. Soal kebahagiaan, Allah SWT sudah memberikan kejelasan di dalam Al Qur’an. Bukan untuk berfoya-foya, berpacaran ataupun malah free seks. Ih amit-amit. Nah tujuan penciptaan kitalah yang bisa ngantarkan diri ini, ke gerbang kebahagiaan yang hakiki. Sobat, Allah SWT sudah berfirman di dalam Al Qur’an, “Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan agar mereka beribadah kepada Ku.” (TQS. Adz-Dzariyaat: 56). Sehingga, sebenarnya ga ada alasan yang logis, untuk kita menghabiskan malam minggu dengan tradisi yang ga bener. Dan kita yakin kok, kalo sobat semua kembali bertanya ke hati nurani kita masing-masing, tentunya kita ngerti, kalo budaya malam mingguan yang selama ini ada di sekeliling kita, itu bertentangan dengan Islam. Pastinya bukan pahala yang kita dapat, tapi dosa yang gede banget. Berapa lama sih kesenangan yang kita dapat pas malam mingguan, paling banter 3 sampe 4 jam. Itupun belum ditambah ama macetnya jalan, hehe. Dan bandingin deh ama siksa yang kita dapat nanti di akhirat. Waduh, ga sebanding fren. Nelongso lho.

Berpikir Deh, Mulai Sekarang

Sobat, tahu ga, pada tiap-tiap peristiwa, seperti bergantinya siang dan malam serta penciptaan langit dan bumi, kita sebenarnya diajak oleh Allah untuk berpikir betapa agungnya Allah SWT. Dan betapa kecilnya kita (manusia). Allah SWT berfirman, “Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, dan silih bergantinya malam dan siang terdapat tanda-tanda bagi orang-orang yang berakal.” (TQS. Ali-‘Imron: 190). Nah, kita sebagai seorang manusia yang udah dikasih akal oleh Allah, apalagi sebagai seorang muslim, seharusnya ga akan mungkin melakukan sesuatu tanpa berpikir dulu. Ini benar atau salah. Ini baik atau buruk. Sobat, sudahkah kita mulai berpikir kesana?

Allah SWT berfiman, “Hai manusia, apakah yang telah memperdayakan kamu (berbuat durhaka) terhadap Tuhanmu yang Maha Pemurah. Yang Telah menciptakan kamu lalu menyempurnakan kejadianmu dan menjadikan (susunan tubuh)mu seimbang.” (TQS. Al Infithaar: 6-7). Lagi-lagi, sama-sama deh kita ingatkan diri kita, supaya ga berbuat semaunya. Dan mulai saat ini, mencoba memperbaiki pribadi.

Jadi sobat, ga ada waktu lagi untuk mengkhususkan malam minggu sebagai malam yang spesial. Apalagi untuk bermaksiat. Malam minggu sebenarnya ga ada bedanya ama malam-malam lainnya. Malam minggu juga sama aja dengan malam Jumat kliwon, hehe. Kita aja yang salah kaprah. Menjadikan hari itu seakan istimewa. Mungkin karena besoknya libur kali ya...Tapi tetep aja, itu semua bukanlah alasan bagi kita untuk durhaka pada Allah SWT. Coba deh, mulai sekarang, kita rubah tradisi ini. Kalo bisa kita hapus sekalian. Ganti dengan hal-hal lain yang lebih bermakna. Berpahala. Dan membuat diri kita makin cerdas. Coba deh, buat acara pengajian, atau menambah ilmu ke-Islam-an kita, pasti jauh lebih asyik. Sebagai penutup, Rasulullah SAW bersabda, “Sebagian dari kebaikan seorang muslim adalah meninggalkan apa yang tidak bermanfaat baginya.” (Al Hadits). Iya kan. So, hapus tradisi malam mingguan. Sepakat!!
(islamuda.com)
Selengkapnya...

"Termehek-mehek”, Rekayasa?

Reality show saat ini sedang menjamur. Tapi di antara semua tayangan reality show, Terhehek-Mehek adalah salah satu program yang dianggap paling disukai oleh pemirsa. Jam tayangnya yang prime time yaitu 18.15-19.00 WIB hingga back song-nya yang keren dan syahdu, membuat acara ini makin diminati.
Pertama kali nonton Termehek-mehek, apa sih yang ada di benak kamu? Pastinya sih terseret arus cerita yang seringkali mengaduk-aduk perasaan di tengah-tengah acara pencarian orang yang dikasihi. Kamu diajak untuk ikut dag-dig-dug menanti ending cerita, happy or sad ending? Jadinya berat rasanya mata untuk dialihkan ke hal lain selain mantengin monitor TV sampai acara selesai. Ehem..iya apa iya..

Mayoritas dari kita, saya dan kamu pasti yakin dan percaya bahwa acara tersebut adalah nyata dan bener terjadi. Dan masih banyak jutaan pemirsa TV lainnya juga yang ikut menangis dan bahagia sesuai dengan jalan cerita Termehek-mehek. Eh…usut punya usut, ternyata acara Termehek-mehek dan mayoritas reality show lainnya itu adalah rekayasa, bukan murni nyata kejadiannya. Kok bisa sih? Makanya, supaya ngerti, ikutin terus pembahasan ini yah. Lanjuutt!

Ternyata rekayasa

Dalam bahasa Jawa, ada istilah ‘nggak mehek’ yang artinya kurang lebih meremehkan atau menganggap kecil sesuatu. Namun Termehek-mehek yang sekarang lagi booming, mempunyai arti menangis tersedu-sedu. Acara ini muncul sekitar Mei 2008 dan langsung menarik perhatian mayoritas pemirsa TV. Ide acara adalah membantu mencari seseorang yang lama hilang. Jalinan ceritanya begitu mempesona karena dibuat seakan-akan nyata dan terjadi dengan sebenarnya.
Saya yang semula juga tersepona eh…terpesona pada Termehek-mehek, jadi kuciwa juga mengetahui fakta sebenarnya. Helmi Yahya sebagai yang punya ide cerita mengakui bahwa ia memanfaatkan karakter orang Indonesia yang suka diberi mimpi.
Para pemeran di tiap episode sengaja diambil dari masyarakat umum terutama mahasiswa agar terkesan alami karena wajahnya belum pernah nongol di TV sebelumnya. Ada satu kasus ketika seorang mahasiswa langsung diteleponin oleh banyak teman-temannya setelah shooting reality show. Jelas aja nih mahasiswa langsung menjelaskan pada teman-temannya itu bahwa cerita yang diangkat bukanlah kisah pribadinya, tapi rekayasa berdasarkan skenario belaka. Malulah kalau sampai beneran kisah pribadinya jadi konsumsi banyak orang se-Indonesia, begitu katanya.
Sebagian dari kamu bisa jadi nggak terima dengan kenyataan ini. Kok bisa sih? Bukankah jelas-jelas sang target pernah mengusir kameramen acara termasuk host-nya yaitu Panda dan Mandala? Masa’ rekayasa pake acara usir-usiran segala? Bahkan Panda pake acara nangis juga bila kebetulan ending cerita mengharukan atau sedih. Mungkin kamu berpikir na?f seperti itu.
Yupz, kamu emang nggak salah. Namanya aja acting, pastilah ya harus meyakinkan. Bahkan Panda dan Mandala pun dibayar bukan cuma untuk menjadi host, tapi plus acting juga. Bagi mereka yang bekerja di dunia pertelevisian, sedari awal langsung ngeh bahwa acara-acara reality show seperti ini penuh dengan rekayasa. Namanya aja show atau pertunjukkan yang sudah jelas ada unsur menghiburnya dong. Hal ini tidak bisa dihindari karena tuntutan deadline. Ketika tidak ada satu kisah nyata yang bisa diangkat ke layar TV, maka solusinya adalah bikin skenario dan membayar pemain amatiran agar terkesan alami. Nah, awalnya saya pikir sebagian, tapi ternyata most of them alias hampir semua episode adalah rekayasa!
Cara gampang untuk mengenali bahwa ini adalah rekayasa yaitu kamu perhatikan aja kualitas suara yang jernih ketika terjadi percakapan antara host, client dan target. Kalau memang si target benar-benar tidak tahu sebagaimana ekspresi mukanya yang seringkali berakting bingung ketika didatangi host, maka seharusnya kualitas suara mereka tidak sejernih yang kita dengar di TV. Kejernihan suara itu karena memang adanya chip untuk mikrofon yang biasanya dipasang di baju. Nah loh…
Kalo kamu jeli, ada wajah tokoh pada acara termehek-mehek yang juga sedang bermain sinetron meskipun hanya sebagai tokoh figuran. Lagipula, bila acara ini menyajikan kejadian sebenarnya, apa ada orang yang rela aibnya ditampilkan sedemikian rupa di TV? Kan sudah mendapat persetujuan dari semua pihak, mungkin itu kilahmu. Namanya juga dramatisasi Non, pastilah acara ini dihadirkan agar seolah-olah semuanya terlihat real.

Mengapa terjadi?
Yupz…kalo di benakmu sempat terbersit pertanyaan seperti ini, itu tandanya kamu sudah selangkah lebih cerdas. Kok bisa-bisanya reality show yang seharusnya real alias nyata, eh ternyata malah rekayasa. Kondisi ini memang memanfaatkan psikologi orang Indonesia yang cenderung pasif dan konsumtif. Mereka mudah ‘dicekoki’ apa saja terutama yang bertujuan pembodohan secara massal. Hal ini pula yang terjadi pada berbagai macam program TV di Indonesia.
Deadline, biasanya menjadi alasan utama rekayasa tayangan reality show. Jadi kalo nunggu kisah nyata beneran untuk ditayangkan, itu bakal menunggu waktu lama dan belum ada kepastian juga kasusnya bisa selesai atau nggak. Kalo direkayasa dengan skenario layaknya sinetron, maka menjual program ini ke stasiun TV jadi lebih mudah karena semuanya serba mudah dan pasti. Karena mudah dan ditonton banyak pemirsa, maka rating pasti naik. Kalo rating naik, iklan pun bakal rebutan untuk ambil porsi tayang. Nah, loh…UUD juga alias Ujung-Ujungnya Duit.
Berdasarkan data AC Nielsen di akhir tahun 2008, Termehek-mehek merupakan program acara paling populer dengan raihan rating 7,2 poin dan share 27,3 persen. Ini adalah yang tertinggi dari semua acara reality show yang ada di stasiun televisi lainnya. Menurut Gusti M Taufik, salah satu Event Coordinator pada sebuah Production House (PH) di Jakarta mengatakan bahwa budget produksi pasti akan membangkak jika shooting menggunakan kejadian real. Belum lagi memburu target pasti akan makan waktu lama. Perhatikan saja pada acara Termehek-mehek, meyoritas pencarian orang bisa dilakukan hanya dalam waktu beberapa hari. Padahal faktanya itu adalah skenario yang bisa diselesaikan hanya dalam waktu hitungan jam saja.
Uang adalah raja diraja manusia saat ini, apalagi untuk program TV. Meskipun sebuah tayangan dikatakan bermutu dan mendidik, namun tanpa uang atau iklan yang menyokong, maka bisa dipastikan program tersebut akan gulung tikar dengan cepat. Begitu sebaliknya, meskipun sebuah tayangan dikategorikan ‘junk program’ alias tidak bermutu, tapi bisa tetep jalan bila didukung kekuatan modal. Inilah pola hidup kapitalisme yang memang sangat mendewakan modal dan pemodal sebagai penguasa zaman.
Tradisi intip-mengintip, mencari celah untuk tahu aib orang, bertengkar dengan kasar di depan umum, berkata-kata jorok sehingga TV perlu menyensor dengan bunyi ‘tiiiittt’, adalah sebagian budaya reality show terutama Termehek-mehek yang berusaha diajarkan pada kita. Sifat dasar manusia yang selalu saja ingin tahu urusan orang dijadikan komoditi, tak ubahnya seperti infotainment. Bedanya, kali ini yang dijadikan objek pengintipan adalah mereka yang bukan selebritis. Tapi intinya sih tetep aja, melakukan hal-hal yang nggak penting dan nggak bermanfaat.

Bagaimana sikap kita?
Mungkin awalnya kita nggak paham tentang realitas reality show. Jadinya kita gampang banget tertipu dan ngefans dengan sebuah program tayangan tertentu. Sampai-sampai kita bela-belain untuk menunda keperluan lain demi nggak mau ketinggalan acara tersebut. Ehem…iya apa iya?
Nah, sekarang kamu jadi ngerti tentang apa dan bagaimananya reality show itu terutama Termehek-mehek yang sekarang ini lagi booming. Terus, apa dong yang kita lakukan sebagai pemuda cerdas plus beriman? Ya…nggak usahlah terlalu serius nonton acara reality show itu. Apalagi tayangan favorit begini biasanya sengaja ditaruh di jam-jam darurat. Perhatikan aja Termehek-mehek ini tayang di waktu Maghrib yang singkat. Kalo kamu udah taraf kecanduan sama acara beginian, bisa dipastikan bakal males mau berangkat sholat. Bila pun melakukan, pasti maunya pingin cepet-cepet selesai alias sholat ala kilat khusus (emangnya surat?).
Padahal itu semua rekayasa loh. Seandainya pun bukan rekayasa, masa iya sih tayangan reality show bisa mengalahkan waktu sholat kamu? Semua ini adalah langkah awal bagi media TV untuk menanamkan racunnya ke dalam benak kaum muslimin terutama pemudanya. Kamu jadi terlena di depan TV dan males untuk sholat secara khusyuk dan tumakninah. Boro-boro baca al-Quran setelah sholat Maghrib, yang ada juga baca al-Fatihah nggak jelas bacaannya karena cepet-cepetan mau nonton Termehek-mehek. Aduh….moga aja kamu bukan type ini ya.
Sabtu sore dan Minggu sore itu biasanya banyak kegiatan di sekitar rumah kamu karena anak-anak sekolah dan kuliah pada santai. Dengan adanya Termehek-mehek ini biasanya kamu-kamu pada males untuk berangkat ngaji atau kegiatan positif lainnya. Pinginnya cuma duduk manis sambil mantengin layer TV nunggu acara reality show kelar.
Nah, mulai sekarang udah nggak musim lagi males ngaji dan ikut pembinaan. Meskipun acara TV kesayangan kamu lagi main, waktunya berangkat menimba ilmu ya berangkat aja. Emang TV bisa menyelamatkan dunia-akhirat kamu? Pasti nggak dong. So, nonton reality show ya wajar-wajar aja kaleee, nggak perlu sampai kecanduan.

Semua ini sandiwara
Bagi yang nggak begitu suka dengan sinetron, biasanya terjebak dengan reality show semacam Termehek-mehek. Padahal program jenis ini setali tiga uang alias sama saja dengan sinteron hanya beda kemasan. Sang produser tahu bener bahwa tidak semua orang bisa ditipu untuk program pembodohan ala tayangan sinetron. Oleh karena itu butuh polesan cerdas untuk tope orang-orang seperti ini dengan tayangan jenis lain. Reality show adalah jawabannya.
Sesungguhnya, semua ini adalah sandiwara. Sandiwaranya para pemodal untuk mengeruk untung sebanyak-banyaknya, tak peduli apakah tayangan itu merusak generasi atau tidak. Yang penting bagi mereka adalah rating tinggi yang berarti iklan banyak, duit pun mengalir menambah penuh pundi-pundi uang mereka. Parahnya lagi, masyarakat kita terlena dengan kebodohan ini. Maka sudah saatnya bagi kamu-kamu yang selangkah lebih cerdas daripada rakyat kebanyakan karena kamu udah membaca gaulislam ini (ehem… kagak nyombong Non!) untuk tidak berdiam diri.
Yuk, kita sebarkan pemahaman ini pada umat. Bukan melulu tentang rekayasa reality show saja tapi juga muatan isinya yang bisa merusak generasi secara perlahan tapi pasti. Ingat, tayangan TV hanya hiburan. Ibarat garam pada masakan, bila kebanyakan maka selain rasanya nggak enak juga pasti menimbulkan berbagai macam penyakit.
Begitu juga dengan tayangan TV, nggak perlu menjadikan TV sebagai menu pokok harian kamu. Sekadarnya saja untuk mengetahui berita terkini terutama tayangan yang bermutu dan bermanfaat. Selebihnya, kita kudu ingat bahwa hidup ini bukanlah main-main. Hidup di dunia juga bukan sandiwara, tapi sungguhan. Kita berbuat salah ya akan mendapat dosa, kalo beramal shalih akan dapat pahala. Hidup kita akan dihisab, akan dimintai pertanggungan jawabnya. Allah Swt. yang akan mengawasi kita semua. Dia tidak bisa ditipu dengan acting kita yang bepura-pura alim atau berpura-pura ikhas. Jadi, beramallah sebaik-baiknya untuk kehidupan sebenarnya di negeri akhirat kelak. Biarkan saja Termehek-mehek dengan acara ‘nggak mehek’nya itu, yang penting kamu nggak lagi sebagai orang na?f yang percaya banget sama reality show. So, ayuk bergerak dan berdakwah untuk perubahan!
(gaulislam.com)


Selengkapnya...

Fatimah Az-Zahra

Pada suatu hari di Madinah, ketika Nabi Muhammad berada di masjid sedang dikelilingi para sahabat, tiba-tiba anaknya tercinta Fatima, yang telah menikah dengan Ali --prajurit umat Islam yang terkenal-- datang pada Nabi. Dia meminta dengan sangat kepada ayah nya untuk dapat meminjam seorang pelayan yang dapat membantunya dalam melaksanakan tugas pekerjaan rumah. Dengan tubuhnya yang ceking dan kesehatannya yang buruk, dia tidak dapat melaksanakan tugas menggiling jagung dan mengambil air dari sumur yang jauh letaknya, di samping juga harus merawat anak-anaknya.




Nabi tampak terharu mendengar permohonan si anak, tapi sementara itu juga Beliau menjadi agak gugup. Tetapi dengan menekan perasaan, Beliau berkata kepada sang anak dengan sinis, "Anakku tersayang, aku tak dapat meluangkan seorang pun di antara mereka ya ng terlibat dalam pengabdian 'Ashab-e Suffa. Sudah semestinya kau dapat menanggung segala hal yang berat di dunia ini, agar kau mendapat pahalanya di akhirat nanti." Anak itu mengundurkan diri dengan rasa yang amat puas karena jawaban Nabi, dan selanjutnya tidak pernah lagi mencari pelay an selama hidupnya.

Fatima Az-Zahra si cantik dilahirkan delapan tahun sebelum Hijrah di Mekkah dari Khadijah, istri Nabi yang pertama. Fatima ialah anak yang keempat, sedang yang lainnya: Zainab, Ruqaya, dan Ummi Kalsum.

Fatima dibesarkan di bawah asuhan ayahnya, guru dan dermawan yang terbesar bagi umat manusia. Tidak seperti anak-anak lainnya, Fatima mempunyai pembawaan yang tenang dan perangai yang agak melankolis. Badannya yang lemah, dan kesahatannya yang buruk men yebabkan ia terpisah dari kumpulan dan permainan anak-anak. Ajaran, bimbingan, dan aspirasi ayahnya yag agung itu membawanya menjadi wanita berbudi tinggi, ramah-tamah, simpatik, dan tahu mana yang benar.

Fatima, yang sangat mirip dengan ayahnya, baik roman muka maupun dalam hal kebiasaan yang saleh, adalah seorang anak perempuan yang paling diayang ayahnya dan sangat berbakti terhadap Nabi setelah ibunya meninggal dunia. Dengan demikian, dialan yang sang at besar jasanya mengisi kekosongan yang ditinggalkan ibunya.

Pada beberapa kesempatan Nabi Muhammad SAW menunjukkan rasa sayang yang amat besar kepada Fatima. Suatu saat Beliau berkata, "O... Fatima, Allah tidak suka orang yang membuat kau tidak senang, dan Allah akan senang orang yang kau senangi."

Juga Nabi dikabarkan telah berucap: "Fatima itu anak saya, siapa yang membuatnya sedih, berarti membuat aku juga menjadi sedih, dan siapa yang menyenangkannya, berarti menyenangkan aku juga."

Aisyah, istri Nabi tercinta pernah berkata, "Saya tidak pernah berjumpa dengan sosok probadi yang lebih besar daripada Fatima, kecuali kepribadian ayahnya."

Atas suatu pertanyaan, Aisyah menjawab, "Fatima-lah yang paling disayang oleh Nabi."

Abu Bakar dan Umar keduanya berusaha agar dapat menikah denga Fatima, tapi Nabi diam saja. Ali yang telah dibesarkan oleh Nabi sendiri, seorang laki-laki yang padanya tergabung berbagai kebajikan yang langka, bersifat kesatria dan penuh keberanian, kesal ehan, dan kecerdasan, merasa ragu-ragu mencari jalan untuk dapat meminang Fatima. Karena dirinya begitu miskin. Tetapi akhirnya ia memberanikan diri meminang Fatima, dan langsung diterima oleh Nabi. Ali menjual kwiras (pelindung dada dari kulit) milikn ya yang bagus. Kwiras ini dimenangkannya pada waktu Perang Badar. Ia menerima 400 dirham sebagai hasil penjualan, dan dengan uang itu ia mempersiapkan upacara pernikahannya. Upacara yang amat sederhana. Agaknya, maksud utama yang mendasari perayaan it u dengan kesederhanaa, ialah untuk mencontohkan kepada para Musllim dan Musllimah perlunya merayakan pernikahan tapa jor-joran dan serba pamer.

fatima hampir berumur delapan belas tahun ketika menikah dengan Ali. Sebagai mahar dari ayahnya yang terkenal itu, ia memperoleh sebuah tempat air dari kulit, sebuah kendi dari tanah, sehelai tikar, dan sebuah batu gilingan jagung.

Kepada putrinya Nabi berkata, "Anakku, aku telah menikahkanmu dengan laki laki yang kepercayaannya lebih kuat dan lebih tinggi daripada yang lainnya, dan seorang yang menonjol dalam hal moral dan kebijaksanaan."

Kehidupan perkawinan Fatima berjalan lanjcar dalam bentuknya yang sangat sederhana, gigih, dan tidak mengenal lelah. Ali bekerja keras tiap hari untuk mendapatkan nafkah, sedangkan istrinya bersikap rajin, hemat, dan berbakti. Fatima di rumah melaksanak an tugas-tugas rumah tangga; seperti menggiling jagung dan mengambil air dari sumur. Pasangan suami-istri ini terkenal saleh dan dermawan. Mereka tidak pernah membiarkan pengemis melangkah pintunya tanpa memberikan apa saja yang mereka punyai, meskipun m ereka sendiri masih lapar.

Sifat penuh perikemanusiaan dan murah hati yang terlekat pada keluarga Nabi tidak banyak tandingannya. Di dalam catatan sejarah manusia, Fatima Zahra terkenal karena kemurahan hatinya.

Pada suatu waktu, seorang dari suku bani Salim yang terkenal kampiun dalam praktek sihir datang kepada Nabi, melontarkan kata-kata makian. Tetapi Nabi menjawab dengan lemah-lembut. Ahli sihir itu begitu heran menghadapi sikap luar biasa ini, hingga ia m emeluk agama Islam. Nabi lalu bertanya: "Apakah Anda berbekal makanan?" Jawab orang itu: "Tidak." Maka, Nabi menanyai Muslimin yang hadir di situ: "Adakah orang yang mau menghadiahkan seekor unta tamu kita ini?" Mu'ad ibn Ibada menghadiahkan seekor unta. Nabi sangat berkenan hati dan melanjutkan: "Barangkali ada orang yang bisa memberikan selembar kain u ntuk penutup kepala saudara seagama Islam?" Kepala orang itu tidak memaki tutup sama sekali. Sayyidina Ali langsung melepas serbannya dan menaruh di a tas kepala orang itu. Kemudian Nabi minta kepada Salman untuk membawa orang itu ke tempat seseorang saudara seagama Islam yang dapat memberinya makan, karena dia lapar.

Salman membawa orang yang baru masuk Islam itu mengunjungi beberapa rumah, tetapi tidak seorang pun yang dapat memberinya makan, kearna waktu itu bukan waktu orang makan.

Akhirnya Salman pergi ke rumah Fatima, dan setelah mengetuk pintu, Salman memberi tahu maksud kunjungannya. Dengan air mata berlinang, putri Nabi ini mengatakan bahwa di rumahnya tidak ada makanan sejak sudah tiga hari yang lalu. Namun putri Nabi itu en ggan menolak seorang tamu, dan tuturnya: "Saya tidak dapat menolak seorang tamu yang lapar tanpa memberinya makan sampai kenyang."

Fatima lalu melepas kain kerudungnya, lalu memberikannya kepada Slaman, dengan permintaan agar Salman membawanya barang itu ke Shamoon, seorang Yahudi, untuk ditukar dengan jagung. Salman dan orang yang baru saja memeluk agama Islam itu sangat terharu. Dan orang Yahudi itu pun sangat terkesan atas kemurahan hati putri Nabi, dan ia juga memeluk agama Islam dengan menyatakan bahwa Taurat telah memberitahukan kepada golongannya tentang berita akan lahirnya sebuah keluarga yang amat berbudi luhur.

Salman balik ke rumah Fatima dengan membawa jagung. Dan dengan tangannya sendiri, Fatima menggiling jagung itu, dan membakarnya menjadi roti. Salman menyarankan agar Fatima menyisihkan beberapa buath roti intuk anak-anaknya yang kelaparan, tapi dijawab bahwa dirinya tidak berhak untuk berbuat demikian, karena ia telah memberikan kain kerudungnya uitu untuk kepentinga Allah.

Fatima dianugerahi lima orang anak, tiga putra: Hasan, Husein, dan Muhsin, dan dua putri: Zainab dan Umi Kalsum. Hasan lahir pada tahun kegia dan Husein pada tahun keempat Hijrah. Muhsin meninggal dunia waktu masih kecil.

Fatima merawat luka Nabi sepulangnya dari Perang Uhud. Fatima juga ikut bersama Nabi ketika merebut Mekkah, begitu juga ia ikut ketika Nabi melaksanakan ibadah Haji Waqad, apda akhir tahun 11 Hijrah.

Dalam perjalanan haji terakhir ini Nabi jatuh sakit. Fatima tetap mendampingi beliau di sisi tempat tidur. Ketika itu Nabi membisikkan sesuatu ke kuping Fatima yang membuat Fatima menangis, dan kemudian Nabi membisikkan sesuatu lagi yang membuat Fatima tersenyum. Setelah nabi wafat, Fatima menceritakan kejadian itu kepada Aisyah. Ayahnya membisikkan bertia kematianya, itulah yang menyebabkan Fatima menangis, tapi waktu Nabi mengatakan bahwa Fatima-lah orang pertama yang akan berkumpul dengannya di ala m baka, maka fatima menjadi bahagia.

Tidak lama setelah Nabi wafat, Fatima meninggal dunia, dalam tahun itu juga, eman bulan setelah nabi wafat. Waktu itu Fatima berumur 28 tahun dan dimakamkan oleh Ali di Jaat ul Baqih (Medina), diantar dengan dukacita masyarakat luas.
Fatima telah menjadi simbol segala yang suci dalam diri wanita, dan pada konsepsi manusa yang paling mulia. Nabi sendiri menyatakan bahwa Fatima akan menjadi "Ratu segenap wanita yang berada di Surga."

Sumber: "Seratus Muslim Terkemuka" oleh Jamil Ahmad.

Selengkapnya...

01 Februari 2009

HaRi kAsiH sAyAnG…

Mungkin udah gak aneh lagi buat kamu-kamu semua dengan adanya perayaan Valentine’s Day. Ritual tahunan yang diperingati tiap tanggal 14 februari itu emang menarik perhatian banyak orang terutama para remaja di dunia ini.

Ntah sadar atau nggak, para remaja muslim juga banyak yang larut dalam perayaan ini, tanpa tau apa itu Valentine’s Day dan gimana sejarahnya. Mereka bilang sich demi pergaulan, biar gak kuper. Geto... Katanya! (Oh ya?)

Nah makanya sekarang aQ mo ngejelasin sebenernya gimana sich sejarah Valentine’s Day itu, biar kamu gak salah kaprah nanggapinya.

Hmm… sebenernya banyak versi sejarah tentang Valentine’s Day, tapi setauku sich Valentine’s Day itu udah ada sejak zaman Athena Kuno. Cuman namanya bukan Valentine tapi Gamelion, yaitu peringatan terhadap perkawinan Dewa Zeus dan Dewi Hera, yang diselenggarain selama 1 bulan pada pertengahan januari sampai februari.

Tapi pada zaman Romawi kuno Gamelion itu berubah jadi Lupercalia, sejenis upacara ritual pensucian dari kutukan, kemalangan, dan kemandulan. Tokohnya Lupercus yaitu sosok lelaki yang digambarkan setengah telanjang sambil make pakean dari kulit domba. Maka dia pun digambarkan dengan wujud manusia setengah hewan (domba).

Acara Lupercalia ini diperingati tiap tanggal 15 februari, acara ini menjadi semacam lotere pasangan, dimana masing-masing wanita muda memasukan namanya dalam suatu bejana. Lalu kelompok pria datang dan ngambil kertas yang berisi nama seorang gadis tadi. Nama yang tertera pada kertas itulah yang akan menjadi jodohnya, yang diyakini bahwa itu adalah takdir dari dewa Lupercus untuk mereka.

Perayaan Lupercalia emang menarik perhatian muda-mudi, dan sebagai akibatnya gereja menjadi kosong. Sehingga Paus Gelasius menggantikan tokoh Lupercus dengan Valentino.

Valentino itu adalah seorang pastur yang di eksekusi mati oleh Kaisar Claudius II (raja Romawi). Ketika di penjara, ia mendapatkan perawatan dari gadis buta dan ia pun jatuh cinta pada gadis tersebut.

Sebelum dihukum mati, ia mengirim surat pada gadis buta tersebut, menurut dongeng sich, ketika gadis buta menerima surat cinta dari postur tersebut, matanya pun mendadak bisa melihat (Masa sich...? gak tau dech ah!)

Karena itulah Paus Gelasius akhirnya ngeresmiin tanggal 14 februarai sebagai Valentine’s Day pada tahun 498 M.

Nah.... udah tau kan sejarah Valentine’s Day itu kayak gimana? Hmm… apakah itu budaya kita sebagai umat islam? Ya jelas bukan dunks! Jelas aja bukan, yang nyontohinnya kan bukan nabi Muhamad, jadi ngapain diikutin, iya ga bro!

Sebenernya sich hal yang paling menonjol dalam setiap perayaan Valentine’s Day adalah sikap pergaulan bebasnya yang dapat mengantarkan para pelakunya pada perbuatan zina (free sex).

Jadi jelas banget klo perayaan Valentine’s Day adalah budaya kufur yang berasal dari ideologi sekularis-kapitalis yang juga kufur. Karena itu, sangat tidak pantas jika kaum muslimin malah latah merayakannnya.

Valentine’s Day sengaja digelar buat mencuci pemikiran generasi muda islam. Paling nggak, ide kebebasan bertingkah laku telah menjadi trend bagi generasi muda saat ini. Gaul bebas dengan lawan jenis bukan hal yang tabu lagi, malah bisa jadi suatu keharusan. Bahaya memang! So.. tinggalkanlah Valentine’s Day, jadilah remaja islam sejati yang bangga dengan aturan diennya… Allohu Akbar!




Selengkapnya...

Kala Cinta Bikin Gelisah

Rasa cinta emang udah jadi fitrah bagi manusia, bagaimana pun rasa cinta mampu melembutkan hati. Yang namanya gharizatun nau’ manusia tidak akan pernah bisa dibungkam. Hanya bagaimana agar penampakan-penampakan naluri seks itu bisa dikendalikan, supaya tidak menjadi liar dan kehilangan arah. Dengan ketakwaannya kepada Allah, masing-masing individu harus bisa memegang kendali nalurinya sendiri. Untuk itu, kita musti tahu, apa sih sifat naluri seks ini.

Ternyata naluri ini akan bangkit jika ada stimulasi eksternal (rangsangan dari luar diri kita). Bentuknya bisa fakta yang kita indera, atau khayalan tentang fakta tersebut dalam benak. Makanya jatuh cinta pasti ada alasannya, yakni sesuatu pada si dia yang engkau sukai. Hingga ketika si dia hadir, mewarnai hari-harimu, menempati ruang hatimu, atau isi kepalamu, itulah saat cintamu bersemi (wah jadi bersyair nih).

Solusinya bila tidak ingin diresahkan oleh naluri seks ini, adalah menikah. Tapi bagaimana bila belum mampu menikah? Ada beberapa cara:

  1. Puasa. Anjuran untuk banyak berpuasa bagi mereka yang belum mampu menikah adalah bentuk pengalihan dari dorongan naluri seksual kepada naluri beragama, karena berpuasa akan semakin mendekatkan seseorang kepada Allah Swt.
  2. Menyibukkan diri pada hal-hal lain yang bermanfaat. Misalnya, menuntut ilmu, berolah raga, aktif dalam organisasi sekolah dan sebagainya. Alihkan keresahan pada aktivitas-aktivitas yang membawa prestasi. Contohnya, ada teman Mbak yang curahan perasaan cintanya menghasilkan puisi-puisi indah, cerpen, tulisan filosofi tentang hidup de el el. Keresahan hati ternyata bisa membuahkan produktivitas berpikir.
  3. Menghindari fakta tentang si dia. Jangan biarkan si dia hadir dalam kenyataan ataupun khayalan. Untuk itu jangan banyak melamun.
  4. Renungkanlah bahwa selayaknya rasa cinta tertinggi hanya kepada Allah Swt., yang menciptakan adik dan setiap orang yang adik cintai.
  5. Panjatkan doa, agar setiap rasa cinta bernilai ibadah di sisi AllahNya.

Percaya deh, naluri itu bisa dikendalikan. Ayo buktikan sendiri. Semoga sukses![] (sobatmuda.multifly.com)




Selengkapnya...

Jomblo Itu Asyik lho!

Kamu pasti udah hapal ama lirik lagu yang dilantunkan Armand Maulana vokalis GIGI. Apalagi kalo ditanya judul lagunya? Hmm…pasti deh pada ngacung. Tapi please deh, yang belon pake Rexona jangan ikutan ngacung ya (eh, ini iklan ya?). Bukan apa-apa. Takut disangka sumber polusi udara. Hehehe…

Selain easy listening , tuh lagu turut mempopulerkan istilah jomblo di kalangan anak muda. Liriknya seolah mengungkap kegelisahan hati seseorang yang belon punya gandengan. Soalnya, truk aja bisa punya gandengan masa' doi nggak. Betul? Betuul…! Tapi ngomong-ngomong, jomblo itu apa sih? Ih… tulalit deh!

Secara etimologi seperti tercantum dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia , jomblo itu artinya perempuan tua yang nggak laku-laku alias perawan tua. Tapi seiring berjalannya waktu, terjadi perluasan makna pada kata jomblo. Kini, jomblo dimaknai sebagai julukan 'trendi' buat mereka (baik cowok maupun cewek) yang masih sendiri, belum punya pacar, dan belum punya gandengan (emangnya truk?). Pokoknya masih suka sendiri aja (atau memang belum ada yang ngajak barengan).

Pro-kontra seputar jomblo

Dalam pergaulan remaja, perdebatan tentang status jomblo nggak kalah serunya dengan debat capres kemaren-kemaren. Banyak yang pro, tapi nggak sedikit juga yang kontra.

Bagi yang pro, mereka enjoy bilang " its oke to be jomblo ". Predikat itu bukan masalah bagi mereka. Justru mereka menikmati hidup tanpa pasangan. Sebagai wujud rasa syukur mereka, ada di antaranya yang bikin perkumpulan dengan nama Jojoba alias Jomblo-jomblo Bahagia . Malah ada juga yang tergabung dalam komunitas Kelompok Jomblo Ceria yang disingkat Kejora. Ehm, Ijo Lumut ( Ikatan Jomblo Lucu dan Imut ) boleh juga tuh. Ada yang mau gabung? Pilih yang oke visi, misi, dan programnya (duileee). Wis, sundut terus!

Mereka ngerasa keberadaan pasangan malah bikin ribet. Kayak memasung kebebasan bin kreativitasnya gitu lho. Deket dikit aja ama temen lawan jenis, dicemburuin. Nggak mau ngikutin kemauan 'yayang', dibilang nggak cinta. Nggak balas SMS atau missed call aja disangka selingkuh. Punya pendapat berbeda malah dicemberutin. Kalo udah gini, tentu being jomblo lebih asyik. Nggak terikat atau mengikat orang lain. Punya otoritas penuh nentuin langkah kakinya sendiri mau belok kiri, kanan, atau lurus tanpa intervensi dan pengawasan dari pihak lain. Mereka juga ngerasa nggak membebani orang lain untuk memenuhi keinginan-keinginannya. Nggak heran kalo para jomblo itu begitu bahagia dan ceria menikmati kesendiriannya. Huhuy!

Sementara yang kontra, mereka juga punya alasan yang nggak kalah dahsyatnya. Bagi mereka, menyandang status jomblo seperti kutukan (wuiih syerem bener..). Soalnya hidup tanpa curahan kasih sayang dari lawan jenis ibarat sayur tanpa garam. Garing bin kering kerontang. Apalagi di kalangan remaja yang menobatkan pacaran sebagai simbol pergaulannya. Alamat bakal tersisih dari pergaulan dan memanen kata-kata sindiran yang pelan tapi dalem dan bikin kuping panas. Seperti yang dialami tiga cewek jomblo Gwen, Keke, dan Olin dalam film 30 Hari Mencari Cinta yang dituding lesbian cuma karena nggak punya gacoan. Gimana nggak gondok? Nggak ku..ku.. deh!

Makanya bagi kaum antijomblo, nggak punya pasangan bisa bikin depresi. Gejala yang ringan sih mungkin cuma uring-uringan, mimik mupeng ngeliat temennya yang pacaran, atau krisis percaya diri karena tak kunjung laku (emangnya jualan?). Tapi bagi yang sudah akut, gejalanya bisa parah. Karena nggak kuat lagi menahan rasa malu, gunjingan atawa sindiran, orang bisa menarik diri dari pergaulan sosial atawa malah terdampar di Rumah Sakit Jiwa. Bukannya kita nakut-nakutin ya, cuma bikin kamu parno (paranoid) aja. Yee...sama aja atuh!

Kaum yang kontra ini, ada yang sampe mendeklarasikan berdirinya PJI alias Partai Jomblo Indonesia. Mereka memperjuangkan persamaan hak dalam mendapatkan jodoh. Mengingat ada di antara mereka yang terkena dampak buruk dari rolek alias risiko orang jelek. Loyalitas mereka dalam perjuangannya terukir dalam semboyannya yang menggugah semangat. "Jomblo itu pedih, Jendral...!" Walah!

Mending jomblo daripada maksiat

Sobat muda muslim, kian hari opini media yang memojokkan para jomblo kian tak terkendali. Remaja makin diarahkan untuk berani mengekspresikan rasa suka kepada lawan jenis dengan berpacaran. Tayangan-tayangan ghibahtaintment yang berseliweran tiap hari di layar kaca, bikin permasalahan cinta menjadi masalah utama dalam hidup manusia. Kedekatan seorang selebritis dengan lawan jenis dikupas habis dengan bumbu sana-sini biar layak jual. Aksi "penembakan" yang dilakukan remaja diabadikan dalam "Katakan Cinta". Perselingkuhan di antara mereka pun sampe melibatkan detektif H2C atau dengan pembuktian Playboy Kabel .

Parahnya, remaja mengkonsumsi semua tayangan di atas setiap minggu. Cinta... cinta....dan cinta..... Tiada hari tanpa obrolan cinta. Otomatis secara psikologi ada beban tersendiri dalam perkembangan jiwa mereka. Malu bin nggak pede dalam kesendiriannya. Merasa terasingkan ketika kebanyakan temen-temennya udah punya gebetan meski usia baru belasan. Pengaruh media membuat murid-murid SMP pun udah Saatnya Mencari Pacar . Berabe euy!

Maaf, bukannya kita mau melestarikan status jomblo. Bukannya mau ngelarang temen-temen jomblo untuk nyari pasangan. Bukan juga mengajak para jomblo untuk tabbatul (membujang). Tapi kalo upaya pelepasan predikat jomblo selalu berujung pada aktivitas pacaran, mendingan tetep istiqomah menyandang status jomblo. Seperti pepatah bilang, biar jomblo asal selamat dari aktivitas maksiat. Setuju?

High Quality Jomblo= JI

Sobat muda muslim, istiqomah dengan predikat jomblo bukanlah sebuah aib yang kudu disesali. Karena derajat manusia di hadapan Allah tidak dinilai berdasarkan predikat ini. Itu berarti kaum jomblo punya peluang yang sama besar dengan para alumninya yang udah merit untuk dapetin pahala Allah yang berlimpah. Jadilah High Quality Jomblo (HQJ) di hadapan Allah. Caranya?
Pertama , HQJ nggak semata dinilai dari penampilan fisik seperti yang disyaratkan dalam "Katakan Cinta". Tapi dinilai dari keterikatannya dengan aturan Allah. Ini berlaku untuk setiap perbuatan dia. Dari bangun tidur sampe tidur lagi. Sehingga melahirkan sikap akhlakul kariimah . Dengan tetangga sebelah rumah akur. Nggak sungkan ngasih pertolongan sesuai kemampuannya. Anti sikap individualis bin egois. Santun dalam bertutur kata dan menyampaikan pendapat. Bersikap tegas tanpa harus bertindak keras. Atau terbuka untuk menerima perbedaan pendapat.

Kedua , seorang HQJ nggak dosa punya tampang menawan hati. Itu kan anugerah dari Allah, ya kudu disyukuri. Tapi bakal dosa kalo anugerah itu dipake tebar pesona sana-sini. Apalagi sampai diobral. Emangnya produk sisa ekspor? Nggak lha yauw!
Ketiga , seorang HQJ juga pandai memanfaatkan masa kesendiriannya. Waktu, pikiran, tenaga, dan isi dompetnya nggak dihabisin buat ngurusin cinta yang nggak sehat. Tapi dioptimalisasi untuk mengekspresikan cinta kepada Allah dan RasulNya. Kegigihannya dalam menuntut ilmu semata-mata demi kemaslahatan umat. Ngasih porsi yang lebih besar dari waktu yang dimilikinya untuk terjun ke dunia dakwah.

Itu sebabnya, doi aktif ngaji, getol dakwah, sopan, dan taat syariat. Malah ada juga lho di antara mereka yang prestasi akademisnya berbanding lurus dengan kecintaannya terhadap perjuangan menegakkan Islam. Karena doi yakin Allah akan memberikan yang terbaik untuknya (ajal. jodoh, rejeki, kebaikan dsb). Rasul saw. bersabda: "Tidak layak seseorang, ketika menyaksikan suatu tempat di dalamnya ada kebenaran, kecuali dia akan mengatakannya. Sesungguhnya sekali-kali hal itu tidak akan pernah memajukan ajalnya dan tidak akan mencegah apa yang telah menjadi rezeki baginya" ( HR al-Baihaqi )

Nah sobat, tiap orang pantas dan pasti menjadi HQJ seperti di atas (kecuali yang udah merit kali ya). Jangan minder meski tampang kita pas-pasan. Kuncinya cuma satu, ridho ngikutin aturan Allah yang original dalam keseharian kita. Bukan aturan bajakan yang doyan kompromi ama sekulerisme dan anak cucunya. Sebab cuma buat yang original Allah bakal ngasih garansi. Nggak cuma seumur hidup, tapi dunia akhirat. Di akhirat kita selamat, di dunia kita bisa jadi anggota JI.

Hah?! JI?! Sst…jangan bilang-bilang polisi ya. Entar didatengin pasukan antiteror 88 lagi. JI di sini artinya Jomblo Idaman yang bisa menjelma jadi CIA (Cowok Incaran Akhwat) atau FBI (Female Bidikan Ikhwan). Masa' nggak kepengen sih?

Islamuda.com




Selengkapnya...

Pacaran??? Gimana yach???

Pacaran, sepertinya telah dinobatkan oleh remaja saat ini sebagai satu-satunya ekspresi cinta kepada lawan jenis. Otomatis ikatan baku syahwat ini sedikit banyak mempengaruhi jalinan persahabatan cewek-cowok. Makin sulit ditemukan hubungan dekat remaja-remaji yang murni pertemanan. Selaluuu aja ada benih-benih cinta di hati yang tersemai tanpa mereka sadari. Nggak heran kalo banyak remaja yang terprovokasi oleh komplotan Project Pop dan Chrisye dalam hits terbaru mereka, �burkat' Buruan deh katakan �. Makanya Yovie dan Nuno juga nggak tahan untuk bilang, � inginku�tidak hanya jadi temanmu�ataupun sekadar sahabat '. Pengenya jadi apa dong?

Pacar. Yup, status pacar yang banyak diburu kaum jomblo sebagai simbol kemenangan dan kebanggaan. Begitu pentingnya status ini hingga dijadikan �mata pelajaran' rutin oleh media massa bagi para pemirsanya. Walhasil, para pelajar berseragam putih biru donker pun menjadikan tempat belajarnya sebagai Sekolah Mencari Pacar (SMP). Parah tenan iki!

Sobat, banyak remaja yang ngerasa kalo jadi pacar atau punya pacar bikin hidup terasa lebih indah. Katanya sih, mereka udah nemuin soulmate alias belahan jiwanya. Seseorang yang memanjakan perasaan cintanya; yang menjaga dan melindunginya; yang begitu perhatian dan peduli padanya; yang menyediakan a shoulder to cry on ; yang mengulurkan tangannya saat salah satunya down ; hingga rela berkorban untuk memenuhi permintaan sang buah hati. Pokoknya romantis abis!

Selanjutnya, hari-hari mereka lalui dengan kebersamaan. Acara jalan bareng sambil gandengan tangan atau mojok berdua untuk saling bertukar cerita jadi menu wajib. Di kampus, sekolah, mal, halte, bioskop, atau di bawah guyuran hujan nggak masalah. Kalo nggak bisa jalan bareng, minimal mengobral kata-kata cinta via SMS. Inilah penyakit orang kasmaran. Enggan berpisah walau sesaat. Bawaannya kangen mulu. Padahal doinya cuma permisi ke toilet. Waduh!

Tapi sobat, apa bener pacaran itu selamanya indah?

Banyak rugi di balik pacaran

Kalo diperhatiin sekilas, bisa jadi orang mengganggap pacaran itu nggak ada ruginya. Padahal, banyak juga lho ruginya. Makanya jangan cuma sekilas merhatiinnya. Nggak percaya? Simak deh poin-poin berikut:

1. Rugi waktu

Sobat, coba kamu iseng-iseng nanya ke temen yang pacaran, berapa banyak waktu yang dia berikan untuk pacarnya? A. satu jam B. dua jam C. satu hari D. satu minggu (kayak soal ujian aja pake multiple choice ). Jawabannya: nggak ada yang cocok! Sebab ketika ikatan cinta di antara mereka diucapkan, masing-masing kudu terima konsekuensi untuk ngasih perhatian lebih buat sang pacar. Itu berarti, harus stand by alias siap setiap saat jika diperlukan doi (sopir taksi kaleee!). Ini yang bikin repot.

Gimana nggak, waktu yang kita punya nggak cuma buat ngurusin sang pacar. Emang sih teorinya nggak seekstrim itu. Biasanya mereka mencoba saling mengerti kalo kekasihnya juga punya kepentingan lain. Tapi kalo masing-masing minta dimengerti, bisa-bisa muncul sikap egois. Merasa dirinya paling penting dan paling berhak untuk diperhatikan. Ending -nya, teori dan praktek sangat jauh panggang dari api. Tetep aja mereka terpaksa ngorbanin waktu untuk sekolah, kantor, keluarga, atau teman sebaya biar doi nggak ngambek. Kalo sudah begini, demi mempertahankan pacaran, urusan lain bisa berantakan. Betul?

2. Rugi pikiran

Sehebat-hebatnya manusia mengelola alokasi pikiran dan perhatian untuk ngurusin hidupnya, belum tentu dia mampu mengendalikan rasa cintanya. Asli. Ketika kita jatuh cinta, nggak gampang kita mikirin urusan laen. Semua pikiran kita selalu mengerucut pada satu objek: Pacar. Mau ngapain aja selalu teringat padanya. Seperti kata Evi Tamala, � mau makan teringat padamu�. mau tidur teringat padamu�lihat cheetah teringat padamu�. ' Ups! Sorry , jangan ngerasa di puji ya. Gubrak!

Nggak heran kalo sitaan pikiran yang begitu besar dalam berpacaran bisa bikin prestasi belajar menurun. Itu juga bagi yang berprestasi. Bagi yang nilainya pas-pasan, bisa-bisa kebakaran tuh nilai rapot. Mereka sulit berkonsentrasi. Meski jasadnya ada dalam kelas belum tentu pikirannya nangkep penjelasan dari guru. Yang ada, pikirannya tengah melanglang buana ke negeri khayalan bersama sang permaisuri pujaan hati. Dan nggak akan sadar sebelum spidol atau penghapus whiteboard mendarat dengan sukses di jidatnya.

3. Terbiasa nggak jujur

Lucu. Kalo kita ngeliat perilaku standar remaja yang lagi kasmaran. Di rumah dia uring-uringan karena sakit perut (tapi bukan diare lho), tapi akibat makan cabe tapi lupa makan goreng bakwannya karena saking asyiknya nonton Dora the Explorer . Sang ibu pun terpaksa telpon ke sekolah untuk minta izin. Menjelang siang, tiba-tiba pacar telpon. Nanyain kabar karena khawatir. Terus dia bilang, �sayang ya kamu nggak sekolah. Padahal nanti siang aku minta di antar ke toko buku terus hadirin undangan temenku yang ulang tahun di KFC�'

Tak lama berselang, keajaiban terjadi. Tiba-tiba sakitnya sembuh dan siap nganterin doi. Padahal sebelum ditelpon pacarnya, sang ibu minta tolong dibeliin minyak tanah di warung sebelah rumah, jawabnya: � nggak kuat jalan Bu. Kan lagi sakit '.

Ini baru contoh kecil. Seringkali orang yang pacaran secara otomatis berbohong, agar terlihat baik bin perfect di mata pacar.

4. Tekor materi

Sobat, dalam berpacaran, keberadaan materi sangat menentukan mati hidupnya itu hubungan. Meski ngakunya nggak begitu mentingin materi, tetep aja kalo nraktir bakso di kantin sekolah atau nonton hemat di twenty one kudu pake duit.

Yang bikin runyam, kebanyakan dari remaja yang berpacaran perekonomiannya sangat tergantung dengan jatah yang dikasih ortu. Pas lagi ada duit, jatah uang saku sebulan ludes dalam hitungan jam di malam minggu pertama setiap bulan. Kalo lagi nggak punya duit sementara pacar ngajak jalan, bisa nekat mereka. Nilep uang SPP atau terlibat aksi kriminal. Repot kan?

Nah sobat, ternyata pacaran tak selamanya indah. Ada juga ruginya. Banyak malah. Rasanya nggak sebanding dong kalo kita harus kehilangan waktu luang, prestasi belajar, teman sebaya atau kedekatan dengan keluarga, karena waktu, pikiran, tenaga, dan materi yang kita punya, banyak dialokasikan untuk sang pacar. Belum lagi dosa yang kita tabung selama berpacaran. Padahal pacar sendiri belum tentu bisa mengembalikan semua yang kita korbankan ketika kita kena PHK alias Putus Hubungan Kekasih. Apalagi ngasih jaminan kita selamat di akhirat. Nggak ada banget tuh. Rugi kan? Pasti, gitu lho!

Pacaran, dilarang masuk!

Sobat muda muslim, meski dalam al-Quran tidak terdapat dalil yang jelas-jelas melarang pacaran, bukan berarti aktivitas baku syahwat itu diperbolehkan. Pacaran di- black list dari perilaku seorang muslim karena aktivitasnya, bukan istilahnya.

Orang pacaran pasti berdua-duaan. Padahal mereka bukan mahram atau suami-istri. Yang kayak gini yang dilarang Rasul dalam sabdanya: �Barangsiapa beriman kepada Allah dan hari akhir, maka tidak boleh baginya berkhalwat (bedua-duaan) dengan seorang wanita, sedangkan wanita itu tidak bersama mahramnya. Karena sesungguhnya yang ketiga di antara mereka adalah setan� (HR Ahmad)

Kehadiran pihak ketiga alias setan sering dicuekin oleh orang yang lagi pacaran. Padahal bisikannya bisa bikin mereka gelap mata bin lupa diri. Cinta suci yang diikrarkan lambat laun ber- metamorfosis menjadi cinta birahi. Ujung-ujungnya mereka akan dengan mudah terhanyut dalam aktivitas KNPI alias Kissing , Necking , Petting , sampe Intercousing . Dari sekadar ciuman hingga hubungan badan. Naudzubillah min dzalik ! Makanya Allah Swt. telah mengingatkan dalam firmanNya:

Dan janganlah kamu mendekati zina; sesungguhnya zina itu adalah suatu perbuatan yang keji dan suatu jalan yang buruk. (QS al-Isr� [17]: 32)

Kalo masih ngeyel dengan peringatan Allah Swt. di atas, dijamin kesengsaraan bakal menimpa kita. Banyak kok fakta yang berbicara kalo gaya pacaran sekarang lebih didominasi oleh penyaluran hasrat seksual. Akibatnya, secara tidak langsung pacaran turut membidani lahirnya masalah aborsi, prostitusi, hingga penyebaran penyakit menular seksual. Karena itu, pacaran dilarang masuk dalam keseharian seorang muslim. Akur? Kudu!

Agar cinta nggak bikin sengsara

Sobat muda muslim, perlu dicatet kalo Islam melarang pacaran bukan berarti memasung rasa cinta kepada lawan jenis. Justeru Islam memuliakan rasa cinta itu jika penyalurannya tepat pada sasaran. Sebab Allah menciptakan rasa itu pada diri manusia dalam rangka melestarikan jenisnya dengan kejelasan nasab alias garis keturunan. Karena itu hanya satu penyaluran yang diridhoi Allah, dicontohkan Rasulullah, dan pastinya tepat pada sasaran. Yaitu melalui pernikahan. Rasulullah saw bersabda: �Wahai sekalian pemuda, barang siapa yang sudah mempunyai bekal untuk menikah, menikahlah. Karena sesungguhnya pernikahan itu dapat memejamkan mata dan memelihara kemaluan. Dan barang siapa yang belum mempunyai bekal untuk menikah, berpuasalah, karena puasa itu sebagai benteng baginya.� (HR Bukhari dan Muslim)

Untuk mengendalikan rasa cinta pada diri manusia, Islam juga punya aturan maen yang meminimalisasi fakto-faktor pembangkit rasa itu. Secara umum, interaksi antara pria dan wanita dalam Islam hanya diperbolehkan dalam aktivitas yang mengharuskan kerjasama di antara mereka. Seperti ketika jual beli di pasar, berobat ke dokter, belajar di sekolah atau kampus, bekerja di kantor, dsb. Dengan catatan, ketika aktivitas di atas selesai, maka masing-masing kudu kembali kepada habitatnya. Nggak pake acara curi-curi kesempatan berduaan sehabis sekolah bubar, mau pergi ke pasar, atau pas berangkat kerja.

Kalo pas lagi ada keperluan mendesak dengan lawan jenis, kita bisa ajak teman biar nggak berduaan. Selain itu, kita juga diwajibkan menjaga pandangan biar nggak jelalatan ketika bertemu dengan lawan jenis. Sebab jika pandangan kita terkunci, sulit mengalihkannya. Seperti kata A. Rafiq, � lirikan matamu�. menarik hati� ' (dangdut terus neh! Tadi Evi Tamala. Hihihi..)

Nggak ketinggalan, Islam juga mewajibkan muslimahnya untuk menutup aurat secara sempurna dan menjaga suaranya agar tidak mendesah bin mendayu-dayu ketika berkomunikasi dengan lawan jenisnya. Sebab bisa memancing lawan jenis untuk berinteraksi lebih jauh.Wah, di sinilah perlu jaga-jaga ya.

Sobat muda muslim, selain dosa, ternyata pacaran juga banyak ruginya. Makanya kalo virus merah jambu mulai meradang di hatimu, cuma ada satu solusi jitu: merit binti menikah. Nggak papa kok masih muda juga. Tapi kalo ngerasa belum mampu, kamu bisa rajin-rajin berpuasa untuk meredam gejolak nafsu. Dan tentunya sambil terus belajar, mengasah kemampuan, dan mengenali Islam lebih dalam, jangan lupa perbanyak kegiatan positif: ngaji dan olahraga, misalnya. Moga kita sukses di dunia dan di akhirat ya. Mau kan? Mau doooong! Siip.. dah! {gaulislam.com}




Selengkapnya...

 

My Blog Log

Followers